Kamis, 06 September 2012

Makalah... Makalah lagi :)


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

MODUL 3
KERUSAKAN PADA GIGI BERCAMPUR
Nama Tutor :   drg. Harun Achmad,M.Kes.,Sp.KGA
                                                DR. drg. Marhamah, M.Kes
Kelompok       : 3 (TIGA)
                        Nama              :

*       Nur Fadhilah AHM (J111 10 123)
*       Rezki Yunitasari (J111 10 125)
*       A. Baratu Lestari (J111 10 127)
*       Muhammad Arfan (J111 10 129)
*       Dyna Puspasari(J111 10 131)
*       Muh. Saihullah (J111 10 133)
*       Rabbania K. Paloloang (J111 10 135)


*       Baiq Miftahul Fatia (J111 10 137)
*       Muhammad Kamil Nur (J111 10 139)
*       Erwin Ariawan (J111 10 141)
*       Faradiba Albaar (J111 10 143)
*       Dian Megawati (J111 10 145)
*       Rizna Ningsih P. (J111 10 147)
*       Nurul Asni (J111 10 149)


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmatnya lah kali ini, penulis bisa menyelesaikan makalah berjudul “Kerusakan pada Gigi Bercampur”.
            Penulisan makalah ini diharapkan mampu memberikan gambaran dan menjelaskan mengenai Kerusakan pada Gigi Bercampur, baik seputar faktor penyebabnya, cara penanganan dan hal-hal lain seputar kerusakan pada gigi bercampur.
            Namun, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itulah penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah ini bisa memberi manfaat bagi pembaca.



Makassar, 8 November 2011



Penulis







DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………..……1
Daftar Isi……………………………………………………………………………...……….2
BAB I (PENDAHULUAN)………………………………………………………………......3
BAB II (TINJAUAN PUSTAKA)……………………………………………………………5
 BAB III(PEMBAHASAN)…………………………………………………………..………15
BAB IV (PENUTUP)…….………………………………………………………………...…24
Daftar Pustaka            ………………………………………………………………………...……….26














BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Gigi berlubang atau karies merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kerusakan gigi masyarakat dunia, baik di Indonesia, maupun di negara-negara lainnya. Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan sementum yang disebabkan aktivitas jasad renik yang ada dalam suatu karbohidrat yang diragikan. Proses karies ditandai dengan terjadinya demineralisasi pada jaringan keras gigi, diikuti dengan kerusakan bahan organiknya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan kerusakan pada jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan periapikal dan menimbulkan rasa nyeri.
Karies terjadi pada semua kalangan masyarakat, baik anak-anak, remaja, hingga dewasa. Banyaknya faktor penyebab karies menjadi salah satu hal penting yang membuat penyakit ini dapat berkembang dengan cepat di masyarakat. Khusus pada makalah ini akan di ulas lebih lengkap mengenai karies pada gigi bercampur. Oral hygiene, diet, dan berbagai hal lain sangat menentukan perkembangan bakteri S. Mutans yang mengambil andil dalam terbentuknya karies gigi,di mana bakteri ini menghasilkan senyawa asam yang mengikis ketebalan email.
Di dalam makalah ini, akan diuraikan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan karies gigi.
Namun, meskipun karies gigi dapat berkembang dengan sangat mudahnya, kesadaran masyarakat Indonesia dalam mewujudkan gigi karies masih belum terlalu baik. Hal ini disebabkan pengetahuan masyarakat masih sangat rendah terhadap faktor penyebab dan akibat dari karies gigi.
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai kerusakan pada gigi bercampur.

B.      RUMUSAN MASALAH
1.      Jelaskan diagnosis pada kasus!
2.      Bagaimana mekanisme kerusakan gigi pada periode gigi bercampur?
3.      Bagaimana karakter bahan yang dipilih untuk restorasi gigi bercampur?
4.      Jelaskan metode kerja preparasi pada kasus?
5.      Bagaimana prognosis dari perawatan yang dilakukan pada pasien?
6.      Bagaimana pencegahan kerusakan gigi pada gigi bercampur?
7.      Bagaimana gambaran radiografi gigi karies?
8.      Apa dampak jika tidak segera ditangani?

C.      TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk mengetahui diagnosis pada kasus.
2.      Untuk mengetahui mekanisme kerusakan gigi pada periode gigi bercampur.
3.      Untuk mengetahui bahan yang dipilih untuk restorasi gigi bercampur.
4.      Untuk mengetahui metode kerja preparasi pada kasus.
5.      Untuk mengetahui prognosis dari perawatan yang dilakukan pada pasien.
6.      Untuk mengetahui pencegahan kerusakan gigi pada gigi bercampur.
7.      Untuk mengetahui gambaran radiografi gigi karies.
8.      Untuk mengetahui dampak karies  jika tidak segera ditangani.






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

DIAGNOSIS
Diagnosis adalah pengenalan suatu penyakit. Kadang-kadang diagnosis cukup dinyatakan dalam pernyataan singkat saja, misalnya amelogenesis imperfekta. Akan tetapi, dalam kebanyakan kasus, diagnosis harus meliputi juga perluasan penyakit, lokasi, dan karakteristik lain dari penyakit tersebut. Misalnya, suatu diagnosis mengenai karies atau penyakit periodontium tidaklah cukup tanpa menguraikan kapan terjadinya dan seberapa jauh keparahannya.
Dental Radiology

 Dental radiology memiliki peranan yang penting dalam menentukan perawatan dan diagnosa gigi. Penggunaan sinar rontgen telah lama di kenal sebagai suatu alat dalam bidang kedokteran umum dan kedokteran gigi yang sangat membantu dalam mendiagnosa penyakit dan untuk menentukan rencana perawatan. Gambaran yang dihasilkan foto rontgen seorang pasien bagi seorang dokter gigi sangat penting terutama untuk melihat adanya kelainan-kelainan yang tidak tampak dapat diketahui secara jelas, sehingga akan sangat membantu seorang dokter gigi dalam hal menentukan diagnosa serta rencana perawatan.
Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi (pits, fissure dan daerah interproximal) meluas ke arah pulpa. Karies akan mengakibatkan kerusakan struktur gigi sehingga terbentuk lubang.
Dasar diagnostik rontgen adalah perbedaan densitas dari berbagai jaringan tubuh yang memberikan berbagai derajat kehitaman pada film. Pembacaan foto rontgen secara konvensial memiliki tingkat subyektivitas yang tinggi karena keterbatasan indra penglihatan. Pendeteksian secara terkomputasi diharapkan dapat membantu menegakkan diagnosis karies gigi.
Salah satu operasi utama dalam pengolahan citra adalah deteksi tepi (edge detection). Tepi adalah perubahan nilai intensitas derajat keabuan yang mendadak (besar) dalam jarak yang singkat. Tepi digunakan untuk proses segmentasi dan indentifikasi objek di dalam citra. Operasi ini bertujuan untuk melacak titik-titik pada citra yang dianggap sebagai tepi dari suatu objek, yang membatasi suatu wilayah objek satu dengan yang lainnya. Tujuan lain operasi pendeteksian tepi adalah untuk meningkatkan penampakan garis batas suatu daerah atau objek di dalam citra. Idealnya proses deteksi tepi akan menggambarkan bentuk geometris dari suatu objek dan mengidentifikasi garis-garis yang mendasari objek-objek tersebut. Output dari operasi ini dimanfaatkan untuk pemrosesan visual pada level yang lebih tinggi seperti rekonstruksi tiga dimensi, pengenalan atau kompresi citra.Konsep deteksi tepi tersebut, dapat digunakan untuk mempermudah mengidentifikasi suatu karies pada gigi.

Mekanisme dan Penyakit
Penyakit yang disebabkan adalah karies gigi, beberapa hal yang menyebabkan karies gigi bertambah parah adalah seperti gula, air liur, dan juga bakteri pembusuknya. Setelah meakan sesuatu yang mengandung gula, terutama adalah sukrosa, dan bahkan setelah beberapa menit penyikatan gigi dilakukan, glikoprotein yang lengket ( kombinasi molekul protein dan karbohidrat) bertahan pada gigi untuk mulai pembentukan plak pada gigi. Pada waktu yang bersamaan berjuta-juta bakteri yang dikenal sebagai Streptococcus mutans juga bertahan pada glycoprotein itu. Walaupun, banyak bakteri lain yang juga melekat, hanya Streptococcus mutans yang dapat menyebabkan rongga atau lubang pada gigi.
Pada langkah selanjutnya, bakteri menggunakan fruktosa dalam suatu metabolisme glikolosis untuk memperoleh energi. Hasil akhir dari glikolisis di bawah kondisi-kondisi anaerobic adalah asam laktat. Asam laktat ini menciptakan kadar keasaman yang ekstra untuk menurunkan pH yang sejumlah tertentu menghancurkan zat kapur fosfat di dalam email gigi mendorong ke arah pembentukan suatu rongga atau lubang.
 Mekanisme terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi. Sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5).Hal ini menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi. Penurunan pH yang berulang-ulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi yang rentan dan proses karies pun dimulai dari permukaan gigi (pits, fissur dan daerah interproksimal) meluas ke arah pulpa.



BAHAN RESTORASI
1. Resin komposit
Komposit merupakan gabungan berbagai bahan yang sifatnya kaku, biokompatibilitasnya baik, tahan korosi, daya regangnya cukup baik dan warnanya sesuai dengan warna gigi alami walaupun kurang stabil. Bahannya merupakan matriks polimer resin dengan partikel pengisi, biasa disebut resin bis-GMA yang dikembangkan oleh Bowen sejak tahun 1972. Partikel pengisi umumnya barium glass atau silikon dioksida. Perkembangan dari restorasi komposit sangat maju dalam beberapa tahun terakhir namun beberapa hal perlu diperhatikan, seperti penyusutan volume pada saat polimerisasi yang mencapai 7% dan menyebabkan tekanan 4-7 Mpa yang dapat menyebabkan celah antara gigi dan restorasi sehingga dapat menyebabkan microleakage, karies  yang rekuren dan gigi sensiitif. Koefisien thermal ekspansinya 2-6 kali lebih besar dari gigi. Hal ini dapat terlihat pada saat mengkonsumsi makanan dan minuman yang terlalu dingin atau panas sehingga meneyebabkan timbulnya microleakage dan hilangnya ikatan adhesif diantara gigi dan restorasi.

Klasifikasi Resin Komposit  
Resin komposit dapat diklasifikasikan atas dua bagian yaitu menurut ukuran filler dan menurut cara aktivasi.
A.      Ukuran filler
Berdasarkan besar filler yang digunakan, resin komposit dapat diklasifikasikan atas resin komposit tradisional, resin komposit mikrofiler, resin komposit hibrid dan resin komposit partikel hibrid ukuran kecil.
a) Resin Komposit Tradisional
Resin komposit tradisional juga dikenal sebagai resin konvensional. Komposit ini terdiri dari partikel filler kaca dengan ukuran rata-rata 10-20μm dan ukuran partikel.
terbesar adalah 40μm. Terdapat kekurangan pada komposit ini yaitu permukaan tambalan tidak bagus, dengan warna yang pudar disebabkan partikel filler menonjol keluar dari permukaan.
b) Resin Komposit Mikrofiler
Resin mikrofiler pertama diperkenalkan pada akhir tahun 1970, yang mengandung colloidal silica dengan rata-rata ukuran partikel 0.02μm dan antara ukuran 0.01-0.05μm. Ukuran partikel yang kecil dimaksudkan agar komposit dapat dipolish hingga menjadi permukaan yang sangat licin. Ukuran partikel filler yang kecil bermaksud bahan ini dapat menyediakan luas permukaan filler yang besar dalam kontak dengan resin.
c) Resin Komposit Hibrid
                Komposit hybrid mengandung partikel filler berukuran besar dengan rata-rata 15-20 µm dan juga terdapat sedikit jumlah colloidal silica, dengan ukuran partikel 0,01-0,05 µm. perlu diketahui bahwa semua komposit pada masa sekarang mengandung sedikit jumlah colloidal silica, tetapi tidak memperngaruhi sifat-sifat dari komposit itu.
d) Resin Komposit Partikel Hibrid Ukuran Kecil
                Untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih kecil daripada sebelumna telah dilakukan perbaikan metode dengan cara grinding kaca. Ini menyebabkan kepada pengenalan komposit yang mempunyai partikel filler dengan ukuran kurang dari 1 µm, dan biasanya berukuran 0,1-1,0 µm, yang biasanya dikombinasikan dengan colloidal silica. Partikel filler berukuran kecil memungkinkan komposit dipolish permukaannya sehingga menjadi lebih rata disbanding partikel filler berukuran besar. Komposit ini dapat mencapai permukaan yang lebih rata karena setiap permukaan kasar yang dihasilkan dari partikel filler adalah lebih kecil dari partikel filler lain.

B.      Cara Aktivasi
Cara aktivasi dari resin komposit dapat dibagi dua yaitu dengan cara aktivasi secara khemis dan aktivasi mempergunakan cahaya.
Aktivasi secara khemis
Produk yang diaktivasi secara khemis terdiri dari dua pasta, satu yang mengandung benzoyl peroxide (BP) initiator dan yang satu lagi mengandung aktivator aromatic amine tertier. Sewaktu aktivasi, rantai --O--O-- putus dan elektron terbelah diantara kedua molekul oksigen (O) seperti terlihat Pasta katalis dan base diletakkan di atas mixing pad dan diaduk dengan menggunakan instrument plastis selama 30 detik. Dengan pengadukan tersebut, amine akan bereaksi dengan BP untuk membentuk radikal bebas dan polimerisasi dimulai. Adonan yang telah siap diaduk kemudian dimasukkan ke dalam kavitas dengan menggunakan instrument plastis atau syringe. 2
Aktivasi mempergunakan cahaya
Sistem aktivasi menggunakan cahaya pertama kali diformulasikan untuk sinar ultraviolet (UV) membentuk radikal bebas. Pada masa kini, komposit yang menggunakan curing sinar UV telah digantikan dengan sistem aktivasi sinar tampak biru yang telah diperbaiki kedalaman curing, masa kerja terkontrol, dan berbagai kebiakan lainnya. Disebabkan kebaikan nin, komposit yang menggunakan aktivasi sinar tampak biru lebih banyak digunakan disbanding dengan pengaktifan secara khemis.
 Kebaikan
Resin komposit cukup kuat untuk digunakan pada tambalan gigi posterior dan resin komposit juga tidak berbahaya seperti amalgam yang dapat menyebabkan toksisitas merkuri kepada pasien. Selain itu, warnanya yang sewarna gigi menyebabkan resin komposit digunakan untuk tujuan estetik.
Kerugian
Walaupun warna resin komposit sewarna gigi, tapi bahan ini dapat berubah warna selama pemakaian. Selain itu dapat juga terjadi pengerutan. Pengerutan biasanya akan terjadi dan menyebabkan perubahan warna pada marginal tambalan. Komposit dengan filler berukuran kecil dapat dipergunakan sehingga 9 tahun, lebih cepat rusak dibandingkan dengan tambalan amalgam.
Kegunaan resin komposit
a. Bahan tambalan pada gigi anterior dan posterior ( direct atau inlay)
b. Sebagai veneer mahkota logam dan jembatan (prosthodontic resin)
c. Sebagai pasak.
d. Sebagai semen pada orthodontic brackets, Maryland bridges, ceramic crown, inlay, onlay.
e. Pit dan fisur sealant.
f. Memperbaiki restorasi porselen yang rusak.

AMALGAM
 Amalgam adalah campuran dari dua atau beberapa logam (alloy) yang salah satunya adalah merkuri. Pada dasarnya dental amalgam terdiri dari merkuri (Hg), perak (Ag), timah (Sn), tembaga (Cu), dan bahan – bahan lainnya. Amalgam merupakan pilihan untuk restorasi gigi posterior.5 Karakteristik amalgam yang lain adalah pemakaiannya dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama, mudah di manipulasikan dan harganya relatif murah. Amalgam merupakan bahan restorasi yang paling kuat dalam penggunaannya dibandingkan bahan restorasi lainnya.
Pemanipulasian amalgam meliputi triturasi, kondensasi, carving, dan polishing. Kondensasi amalgam bertujuan untuk mengadaptasikan amalgam ke dinding kavitas, mengurangi jumlah merkuri yang berlebih, dan menghilangkan rongga amalgam (voids) sehingga tercapai kepadatan maksimal. Kondensasi amalgam dapat dilakukan secara manual atau dengan alat mekanis. Kondensasi manual dilakukan dengan menggunakan condenser dimana setiap condenser dipilih sesuai dengan luas dan bentuk kavitas. Tekanan yang diberikan oleh operator akan mengatur besarnya tekanan pemadatan.6 Selain itu, luas ujung condenser dan tekanan yang diberikan oleh operator akan mengatur besarnya tekanan kondensasi. Kondensasi mekanis menggunakan alat otomatis yang dapat memberikan getaran tertentu pada kavitas.
Amalgam memiliki sifat seperti fisik, mekanis, khemis, dan biologis yang dapat dipengaruhi oleh cara pemanipulasiannya termasuk cara kondensasi dental amalgam. Sifat fisik amalgam seperti creep, selain itu amalgam juga memiliki sifat mekanis yaitu kekuatan dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh cara – cara kondensasi. Selain itu kondensasi amalgam juga dapat mempengaruhi terjadinya microleakage, perubahan dimensi, dan terjadinya porositas pada amalgam.

 Amalgam dapat diklasifikasikan atas beberapa jenis yaitu :
1. Berdasarkan jumlah metal alloy, yaitu:
a. Alloy binary, contohnya : silver-tin
b. Alloy tertinary, contohnya : silver-tin-copper
c. Alloy quartenary, contohnya : silver-tin-copper-indium
2. Berdasarkan ukuran alloy, yaitu:
a. Microcut, dengan ukuran 10 – 30 μm.
b. Macrocut, dengan ukuran lebih besar dari 30 μm.

3. Berdasarkan bentuk partikel alloy, yaitu:
a. Alloy lathe-cut

Alloy ini memiliki bentuk yang tidak teratur, seperti yang terlihat pada Gambar 1.1
 
Gambar 1. Partikel alloy amalgam lathe-cut (100x) 10
b. Alloy spherical

Alloy spherical dibentuk melalui proses atomisasi. Dimana cairan alloy diatomisasi menjadi tetesan logam yang berbentuk bulat kecil, seperti yang
terlihat pada Gambar 2. Alloy ini tidak berbentuk bulat sempurna tetapi dapat juga berbentuk persegi, tergantung pada teknik atomisasi dan pemadatan yang digunakan.
 
Gambar 2. Partikel alloy amalgam spherical (500x) 10
c. Alloy spheroidal

Alloy spheroidal juga dibentuk melaui proses atomisasi.
4. Berdasarkan kandungan tembaga

Kandungan tembaga pada amalgam berguna untuk meningkatkan kekuatan (strength), kekerasan (hardness), dan ekspansi saat pengerasan. Pembagian amalgam berdasarkan kandungan tembaga yaitu:
a. Alloy rendah copper (low copper alloy)

Low copper alloy ini mengandung silver (68-70%), tin (26-27%), copper (4-5%), zinc (0-1%).

b. Alloy tinggi copper (high copper alloy)
High copper alloy mengandung silver (40-70%), tin (22-30%), copper (13-30%), zinc (0-1%). Alloy ini dapat diklasifikasikan sebagai:
a) Admixed/dispersi/blended alloys

Alloy ini merupakan campuran spherical alloy dengan lathe-cut alloy dengan komposisi yang berbeda yaitu high copper spherical alloy dengan low copper lathe-cut alloy. Komposisi seluruhnya terdiri atas silver (69%), tin (17%), copper (13%), zinc (1%).
b) Single composisition atau unicomposition alloys

Tiap partikel dari alloy ini memiliki komposisi yang sama. Komposisi seluruhnya terdiri atas silver (40-60%), tin (22-30%), copper (13-30%), zinc (0-4%).
5. Berdasarkan kandungan zinc
a. Alloy mengandung seng: mengandung lebih dari 0.01% zinc.
b. Alloy bebas seng: mengandung kurang dari 0.01% zinc.

Glass-ionomer cement (GIC)
Glass-ionomer cement sudah dikenal sejak tahun 1971, dan bahan ini merupakan pilihan utama untuk merestorasi gigi-gigi anterior, bahkan untuk gigi-gigi posterior sekali pun. Setelah resin komposit diperkenalkan, glass-ionomer masih tetap eksis dan kemampuannya terus berkembang seperti halnya resin komposit.
Pemilihan bahan GIC sebagai pengikat resin komposit dengan dentin pada restorasi laminasi didasari atas keunggulan sifat-sifat bahannya. Glass-ionomer merupakan bahan yang tidak mengiritasi jaringan lunak dan memiliki kandungan Fluor yang dapat dilepaskan ke lingkungan rongga mulut, serta menyerap Fluor dari lingkungan disekitarnya sehingga berfungsi sebagai reservoir, sehingga dapat mencegah terbentuknya karies sekunder. Bahan ini berikatan dengan jaringan termineralisasi gigi secara fisikokemis, yaitu terjadi pertukaran ion-ion GIC dengan ion-ion dalam struktur gigi membentuk suatu lapisan ion-ion yang mengikat GIC dengan jaringan keras gigi. Ikatan glass-ionomer dengan dentin lebih baik dibanding  dengan ikatan dentin dengan resin komposit. Koefisien termal ekspansinya mendekati koefisien termal ekspansi struktur gigi, mampu menerima tekanan oklusal ringan, dan tahan terhadap daya abrasif. Selain itu GIC merupakan bahan berbasis air, yang untuk mempertahankan kestabilannya memerlukan suasana yang sedikit lembab dengan menyerap cairan dari sekitarnya. Meskipun demikian, kelembaban yang ekstrim dan pengeringan dapat mengganggu pengerasan bahan
dan melemahkan bahan glass-ionomer. Glass-ionomer yang sudah mengeras dapat dietsa untuk memperoleh kekasaran dan porositas permukaannya, sehingga resin komposit dapat berikatan
dengan secara mekanis. Hubungan dengan resin komposit diperoleh secara kemis dan fisik. Etsa dilakukan tidak lebih dari 20 detik untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dari matriks glass-ionomer. Saat ini telah banyak beredar Resin Modified Glass-Ionomer Cement (RMGIC). Penambahan resin pada GIC bertujuan untuk mengatasi masalah sensitifitas bahan pada saat pengerasan dan mempercepat waktu pengerasan. Saat ini RMGIC mulai menggantikan glass-ionomer konvensional dan dapat digunakan untuk semua indikasi glas-ionomer konvensional ditambah dengan kegunaan lainnya. Bahan ini dianjurkan untuk digunakan pada restorasi laminasi karena pengerasannya lebih cepat dan adaptasi interfasial dengan dentin yang lebih baik dari resin komposit. Ikatan RMGIC dengan resin komposit terbentuk karena terjadi reaksi kimia diantara kedua bahan ini.



















BAB III
PEMBAHASAN

SKENARIO:
                Seorang siswa, berumur 10 tahun diantar oleh ibunya ke RSGM Unhas, dengan keluhan gigi depan atas berlubang, dan gigi sebelah kiri rahang atas tidak terasa nyaman karena sering terselip makanan. Pada pemeriksaan, terlihat ada lubang pada bagian proksimal gigi, tidak terasa sakit, hanya terasa ngilu kalau minum dingin. Terlihat juga pada oklusal gigi molar kanan bawah titik hitam tapi tidak terasa sakit.

1.       DIAGNOSA KASUS
-          Gejala karies
Sejauh ini tanda-tanda karies, yakni yang dapat dideteksi oleh para klinisi, telah diketahui. Namun, seringkali pasien merasa memerlukan perawatan karena gejala karies yang dirasakannya.
Karies menunjukkan gejala pada saat tahapnya relative sudah lanjut, misalnya terlihat diskolorisasi coklat atau hitam, terdapatnya kavitas, terasa adanya “lubang dalam gigi” dengan sentuhan lidah, atau sudah nyeri.
Kariesnya sendiri, sekalipun sudah sampai dentin, tidak menimbulkan nyeri, namun kavitas yang terbentuk menimbulkan nyeri yang lumayan derajatnya jika termasuki makanan manis atau terangsang oleh panas atau dingin. Secara normal, email dan dentin nekrotik melindungi dentin yang sensitive dan pulpa dari stimuli tersebut. Akan tetapi, suatu penyebab yang paling umum atas timbulnya nyeri, yang bisa sangat parah, adalah pulpitis (“sakit gigi”, yang paling sering) yang timbul pada tahap lanjut penjalaran karies ketika karies sudah sangat dekat pulpa atau bahkan menembusnya.
Pulpa yang terinflamasi secara kronik bisa tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan gejala ringan saja. Sebaliknya, pulpitis akut terasa sangat nyeri dan nyerinya sering dipicu oleh stimulus panas atau dingin. Lebih merepotkan lagi, nyerinya tidak dapat dirasakan dengan tepat pada gigi yang mana, dan pasien hanya mampu menunjukkan kuadran atau bahkan sisi mulutnya saja yang terasa nyeri.
Diagnosa pada kasus tersebut dapat digarisbawahi keluhan “tidak terasa sakit hanya merasa ngilu ketika terdapat stimulus”. Maka dapat disimpulkan, si pasien mengalami pulpitis reversible Dimana karies mengenai daerah dentin. Itu terjadi karena terbukanyAtau biasa juga disebut dengan karies median. Karies ini masih bisa dilakukan perawatan pulpanya.

Pulpitis adalah proses radang pada jaringan pulpa gigi,yang pada umumnya merupakan kelanjutan dari proses karies. Jaringan pulpa terletak di dalam jaringan keras gigi sehingga bila mengalami proses radang, secara klinik sulit untuk menentukan seberapa jauh proses radang tersebut terjadi.
Selama ini radang pulpa ditentukan dengan adanya keluhan rasa sakit yang sifatnya subyektif. Secara patofisiologik, pulpitis dibagi menjadi pulpitis reversibel dan pulpitis ireversibel, karena yang penting dalam menentukan diagnosis pulpitis adalah jaringan pulpa tersebut masih dapat dipertahankan atau sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

2.       GAMBARAN RADIOLOGI GIGI KARIES

 
Gambar 1. Karies proksimal


 
 
Gambar 3. Karies proksimal oklusal 

 



1.       Ringan/Dini
Biasanya terjadi di daerah titik kontak dan gingiva margin. Gambaran radiografik berupa cekungan radiolusen di permukaan luar gigi 
2.       Sedang
Karies telah melibatkan lebih dari setengah email, tapi tidak mencapai DEJ.Gambaran radiografiknya berupa segitiga radiolusen di dasar permukaan padagigi dan puncaknya mengarah ke pulpa 
3.  Lanjut
Karies telah meluas dan melibatkan DEJ. Gambaran radiografik dapat berupasegitiga     radiolusen 
4. Berat
Secara radiografi telah terlihat karies yang melibatkan lebih dari setengahketebalan dentin dan mendekati pulpa. Kamar pulpa dapat terlihat terbuka/tidak.Karies interproksimal yang parah menyebabkan email yang tidak didukung dentinakan pecah oleh tekanan kunyah, menyebabkan gambaran radiolsen yang sangat besar.

3.       RESTORASI YANG DIGUNAKAN
Untuk gigi anterior yang bermasalah , perawatan bisa menggunakan Glass Ionomer Cement (GIC) atau Resin Komposit, mengingat besarnya peran estetik dari gigi anterior. Dan untuk gigi posterior biisa menggunakan amalgam mengingat sifat fisik yang baik dan daya tahan tinggi terhadap tekanan kunyah. Namun, sekarang ada modifikasi bahan yang menyebabkan amalgam tidak selalu menjadi pilihan utama untuk gigi posterior karena kandungan merkurinya yang tidak baik bagi tubuh, terutama bagi anak-anak. Penggunaan resin komposit pun sudah di indikasikan seiring dengan kemajuan teknologi bahan.

4.       METODE PREPARASI
Menurut Black, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam preparasi.
-          Outline form
o   Mempertimbangkan kekuatan cusp gigi
o   Mempertimbangkan kekuatan marginal ridge
o   Meminimalkan perluasan kavitas arah faciolingual
o   Menghubungkan 2 kerusakan gigi yang berdekatan
o   Kedalaman preparasi dalam dentin max. 0,2 mm untuk karies pada pit dan fissure:0,2 – 0,8 mm untuk dinding axial pada karies permukaan halus gigi.
-          Resistance form
o   Bentuk dan penempatan dinding preparasi yang mendukung restorasi dan gigi untuk bertahan terhadap fraktur dan tekanan kunyah.
o   Berbentuk box
o   Dasar preparasi rata
o   Internal line angle sedikit membulat
o   Mempunyai ketebalan yang cukup untuk bahan restorasi.
-          Retention form
o   Adalah bantuk dari conventional preparasi yang menahan restorasi dari terlepas karena tekanan.
o   Tergantung dari material yang digunakan
o   Kelas I dan II amalgam à konvergen ke oklusal
o   Composite à micromechanical bond
o   Dinding parallel axial dan undercut yang dibuat dalam dentin à cara tradisional untuk mendapatkan retensi untuk material plastis
o   Untuk material yang berbahan dasar resin à retensi didapat dari ikatan kimia bonding dengan gigi à enamel lebih di etching untuk mendapatkan bentuk irregular secara mikroskopis.
-          Convenience form
o   Adalah bentuk preparasi yang menyediakan kemudahan pandangan saat preparasi atau merestorasi gigi.
o   Klas II amalgam à preparasi diperluas di bawah titik kontak.
-          Removal of caries
-          Finishing
o   Desain cavosurface angle : 270° à dalam prakteknya, dibuat lebih kecil dari 270° dengan konsekuensi material margin angle tambalan menjadi lebih kecil
o   Kehalusan dinding kavitas
o   Tujuan :
§  Memberukan kekuatan mekanis antara gigi dan bahan tambal
§  Memberikan seal yang baik untuk gigi
§  Sebagai batas tepi  restorasi
§  Mendapatkan sudut yang optimal terhadap gigi.
-          Cavity toilet
o   Membersihkan kavitas yang telah di preparasi sebelum direstorasi
o   Debris , darah dan sisa-sisa hasil preparasi dibersihkan dengan semprotan air melalui syringe
o   Langkah terakhir adalah mengeringkan kavitas dengan aliran udara


5.       PROGNOSIS PERAWATAN
-          Resin Komposit
Evaluasinya meliputi perubahan warna, adaptasi tepi, bentuk anatomi, perubahan warna tepi tumpatan, karies sekunder, tekstur permukaan tumpatan dan sensitivitas setelah penumpatan. Freilich dkk. meneliti 200 tumpatan Klas I dan Klas II gigi posterior yang di amati oleh dua pengamat independen yang telah dikaliberasi yaitu pada saat penumpatan 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, 24 bulan, dan 36 bulan. Setelah pemakaian selama tiga tahun menunjukkan bahwa 99% dari 105 restorasi yang lolos criteria dan dievaluasi termasuk golongan baik.
-          Amalgam
Bahan restorasi ini cenderung bertahan lama karena sifat korosifnya yang mengunntungkan apabila diaplikasikan dengan baik.  Namun, apabila aplikasinya kurang baik, maka akan menyebabkan terjadinya break down di margin, tidak membantu menguatkan sisa jaringan gigi, yang berakibat harus adanya penanganan dari dokter gigi lagi. Sifat amalgam yang brittle , terutama untuk High Copper Alloys juga menyebabkan tingginya frekuensi kegagalan. Restorasi amalgam Klas II Molar hanya 12% tumpatan amalgam bertahan lama melebihi empat tahun tanpa harus dirawat lebih lanjut. Sisanya 88% sebahagian besar memerlukan penggantian. Salah satu penyebab kegagalannya ialah jarak tanduk pulpa dan material tumpatan yang harus cukup, sedangkan di pihak lain mengharuskan kita melakukan preparasi kavitas yang cukup dalam.
-          Glass Ionomer
Bila dibandingkan dengan amalgam, GIC membutuhkan teknik preparasi yang lebih sederhana, dengan menghilangkan jaringan gigi yang lebih sedikit. Pada penelitian sebelumnya ditunjukkan angka kegagalan sebanyak 23% setelah 2 tahun dan 60% setelah 3 tahun.

6.       DAMPAK APABILA TIDAK DILAKUKAN PERAWATAN
Karies yang pada awalnya hanya berada pada permukaan gigi, lama-kelamaan menyerang jaringan dentin dan pulpa. Apabila lapisan dentin sudah terbuka, maka akan menyebabkan adanya rasa nyeri yang diakibatkan adanya rangsang pada serabut syaraf di dalam tubulus dentinalis. Karies bisa berlanjut hingga ke jaringan pulpa. Jaringan pulpa yang sudah terinfeksi lama-kelamaan akan mati. Apabila sudah mati, rasa sakit pada gigi yang berlubang akan hilang begitu saja dalam beberapa hari. Gigi berlubang ini akan menjadi pintu gerbang bagi masuknya bakteri-bakteri yang ada di rongga mulut untuk masuk ke jaringan di bawah gigi. Bakteri-bakteri tersebut akan menginfeksi jaringan di bawah gigi dan menimbulkan periodontitis apikalis yaitu peradangan jaringan periodontal di sekitar ujung akar gigi. Apabila tidak dilakukan perawatan, kondisi ini akan bertambah parah sampai berbentuk abses (terbentuknya nanah di daerah apeks gigi  atau daerah sekitar ujung akar), granuloma, sampai kista gigi. Biasanya kondisi tersebut akan disertai rasa sakit pada gigi apabila gigi tersebut ditekan atau digunakan untuk mengunyah makanan. Gigi dengan kelainan abses periapikal juga akan terasa bertambah tinggi dan mengganjal ketika digigitkan. Apabila daya tahan tubuh lemah, kondisi abses yang berasala dari gigi bisa bertambah parah dan berubah menjadi cellulitis dan osteomyelitis dari tulang rahang. Selain itu, infeksi bisa meluas atau menyebar ke bagian leher ataupun dada.

7.       CARA PENCEGAHAN
Banyak yang bisa di lakukan untuk mencegah karies.mengetahui penyebabnya merupakan hal yang penting agar mengerti bagaimna  melakukan pencegahannya,takkalah penting  pula untuk mengganggap karies sebagai suatu proses penghancuran  dan perbaikan silih berganti. Jika kekuatan penghancuran  melebihi  kekutan saliva  maka karies akan terus berlanjut,sebaliknya  jika kekuatan reparatif mengalahkan  kekuatan  perusaknya , karies  akan berhenti  atau  bahkan membaik tergantung pada stadium apa yang terjadi . oleh karena itu b, penegakan diagnosis di sini sangatlah penting  artitinya  karena jika pengerusakan  dibiarkan berlanjut  terlalu jauh  maka hanya tindakan operatiflah yang dapat menangulanginya , sayangnya penambalan   tidaklah mencegah  terjadinya karies lesi baru akan bisa terbentuk  di sekitar restorasi . kalau menghendaki   tumpatan bertahan lama  maka hendaknya  dentistri preventif harus berjalan bersama sama  bergandeng tangan  dengan dentistri operatif.
 Dasar dasar pencegahan karies adalah  modifikasi satu atau lebih dari tiga faktor utama penyebab karies yaitu plak,sustrat karbohidrat yang sesuai yaitu:
a.       Hilangkan substrat karbohidrat
Untungnya  tidaklah perlu menghilangkan secara total karbohidrat dari makanan kita ,yang  perlu hanyalah mengurangi frekuensi  konsumsi gula dan membatasainya saat makan saja, hal ini di anggap cara pencegahan paling efektif.
b.       Tingkatkan ketahan gigi
Email dan dentin yang terbuka  dapat di buat lebih resisten terhadap karies  dengan memaparkannya  terhadap flour secara tepat. Pit dan fisur yang dalam dapat dikurangi  kerentanannya  dengan menutupnya memakai resin , mengingat bahwa dalam proses karie ini terliput kuman yang spesifik,tidaklah mustahil dalam waktu yang akan datang  dapat dilakukan pencegahan dengan imunisasi. Berbagai penelitian sekarang ini benar benar sedang diarahkan kepada maksud tersebut.walaupun demikian uji coba klinik pada manusia masih harus di laksanakan dan kalaupun dianggap sukses maka realisasi,imunisasi dalam skalanya yang besar masih  jauh dari jangkauan.
c.        Hilangkan plak bakteri
Secara teoritis permukaan gigi yang bebas plak tidak akan  menjadi karies, tetapi penglihatan total plak secara teratur bukan lah pekerjaan mudah. Untunggnya tidak semua kuman dalam plak  mampu meragikan gula  sehingga tidaklah mustahil  untuk mencegah karies dengan jalan mengurangi kuman yang kariogeniknya saja.

Karies  adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh adanya interaksi plak kuman dengan diet dan gigi. Tidak diragukan lagi bahwa tanpa  adanya plak maka tidak akan timbul karies. Akibatnya salah satu cara pencegahan karies adalah dengan mengusahakan  agar pembentukan plak  pada permukaan gigi dapat di batasi  baik dengan cara mencegah cara pembentukannya  atau dengan pembersihan plak  dalam jangka waktu tertantu.
Dalam  pengendalian plak untuk mencegah timbulnya karies dikenal dengan dua cara  yaitu:
·         Perawatan berdasarkan hipotesa plak non spesifik
Menurut hipotesa ini, semua plak mempunyai potensi kariogenik  yaitu karies adalah suatu infeksi non spesifik , bila hipotesa ini benar maka  perbedaan utama  antara individu dengan karies inaktif dan individu adalah karies rampan adalah pada kuantitas plak yang ada . akibatnya identitas  individu dengan menggunakan tes kuman tidak diperlukan. Karies setiap indivudu membentuk plak setiap harinya, maka seluruh  masyarakat harus dirangsang menjaga  higiene oral dengan baik. Cara  ini bersama sama  dengan pemberian nasihat  mengenai diet  dan cara menggunakannnya  flour dudah dilaksanakan selama 3 puluh tahun terakhur ini dengan presentasi keberhasilan yang tidak banyak.
·          Perawatan berdasarkan hipotesa plak spesifik
Filosofi perawatan ini mengemukakan bahwa plajk tidak selalu  menyebabkan karies dan hanya plak tertentu  yang mengandung koloni  mikroba spesifik yang bertanggung jawab terhadap timbulnya  karies pada gigi. Memang telah terbukti  komposisi kuman pada plak  bervariasi dari satu sisi ke sisi lain  baik dalam mulut yang sama maupun dalam mulut  individu yang berbeda , telah di temukan oleh  loesche (1) pada tahun 1982 bahwa secara bakteriologik  plak dapat di golongka  dalam 3 kelompok besar  yaitu plak yang tidak menyebabkan  penyakit , plak yang menyebabkan karies  dan plak yang menyebabkan penyakit periodontium.



BAB IV
PENUTUP

1.       Diagnosa pada kasus tersebut dapat digarisbawahi keluhan “tidak terasa sakit hanya merasa ngilu ketika terdapat stimulus”. Maka dapat disimpulkan, si pasien mengalami pulpitis reversible Dimana karies mengenai daerah dentin. Itu terjadi karena terbukanyAtau biasa juga disebut dengan karies median. Karies ini masih bisa dilakukan perawatan pulpanya.
2.       Mekanisme karies : Mekanisme terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi. Sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5).Hal ini menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi. Penurunan pH yang berulang-ulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi yang rentan dan proses karies pun dimulai dari permukaan gigi (pits, fissur dan daerah interproksimal) meluas ke arah pulpa.
3.       Bahan yang digunakan: resin komposit, amalgam, atau Glass Ionomer.
4.       Prognosis perawatan :
a.       Resin Komposit
Evaluasinya meliputi perubahan warna, adaptasi tepi, bentuk anatomi, perubahan warna tepi tumpatan, karies sekunder, tekstur permukaan tumpatan dan sensitivitas setelah penumpatan. Freilich dkk. meneliti 200 tumpatan Klas I dan Klas II gigi posterior yang di amati oleh dua pengamat independen yang telah dikaliberasi yaitu pada saat penumpatan 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, 24 bulan, dan 36 bulan. Setelah pemakaian selama tiga tahun menunjukkan bahwa 99% dari 105 restorasi yang lolos criteria dan dievaluasi termasuk golongan baik.
b.      Amalgam
Bahan restorasi ini cenderung bertahan lama karena sifat korosifnya yang mengunntungkan apabila diaplikasikan dengan baik.  Namun, apabila aplikasinya kurang baik, maka akan menyebabkan terjadinya break down di margin, tidak membantu menguatkan sisa jaringan gigi, yang berakibat harus adanya penanganan dari dokter gigi lagi. Sifat amalgam yang brittle , terutama untuk High Copper Alloys juga menyebabkan tingginya frekuensi kegagalan. Restorasi amalgam Klas II Molar hanya 12% tumpatan amalgam bertahan lama melebihi empat tahun tanpa harus dirawat lebih lanjut. Sisanya 88% sebahagian besar memerlukan penggantian. Salah satu penyebab kegagalannya ialah jarak tanduk pulpa dan material tumpatan yang harus cukup, sedangkan di pihak lain mengharuskan kita melakukan preparasi kavitas yang cukup dalam.
c.       Glass Ionomer
Bila dibandingkan dengan amalgam, GIC membutuhkan teknik preparasi yang lebih sederhana, dengan menghilangkan jaringan gigi yang lebih sedikit. Pada penelitian sebelumnya ditunjukkan angka kegagalan sebanyak 23% setelah 2 tahun dan 60% setelah 3 tahun.

5.       Cara pencegahan yang bisa dilakukan ialah:
a.       Hilangkan substrat karbohidrat
b.      Tingkatkan ketahan gigi
c.       Hilangkan plak bakteri
6.       Gambaran Radiografi:
Ringan/Dini
Biasanya terjadi di daerah titik kontak dan gingiva margin. Gambaran radiografik berupa cekungan radiolusen di permukaan luar gigi 
Sedang
Karies telah melibatkan lebih dari setengah email, tapi tidak mencapai DEJ.Gambaran radiografiknya berupa segitiga radiolusen di dasar permukaan padagigi dan puncaknya mengarah ke pulpa 
Lanjut
Karies telah meluas dan melibatkan DEJ. Gambaran radiografik dapat berupasegitiga     radiolusen 
Berat
Secara radiografi telah terlihat karies yang melibatkan lebih dari setengahketebalan dentin dan mendekati pulpa. Kamar pulpa dapat terlihat terbuka/tidak.Karies interproksimal yang parah menyebabkan email yang tidak didukung dentinakan pecah oleh tekanan kunyah, menyebabkan gambaran radiolsen yang sangat besar.
7.       Dampak tidak dilakukan perawatan ialah penyakit yang lebih kompleks, mulai dari abses, granuloma, kista gigi, cellulitis, osteomyelitis, dll.



DAFTAR PUSTAKA
·         Manual Konservasi Restoratif Menurut Pickard Edisi ke-6
·         Serba Serbi Kesehatan Gigi dan Mulut, Ardyan Gilang Ramadhan
·         Dasar-Dasar Karies , Penyakit dan Penanggulangannya, Edwina A. M. Kidd & Sally Joyston – Bechal

0 komentar:

Posting Komentar