FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MODUL 3
KERUSAKAN PADA GIGI BERCAMPUR
Nama Tutor : drg. Harun
Achmad,M.Kes.,Sp.KGA
DR.
drg. Marhamah, M.Kes
Kelompok : 3 (TIGA)
Nama :
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmatnya lah kali ini,
penulis bisa menyelesaikan makalah berjudul “Kerusakan pada Gigi Bercampur”.
Penulisan makalah ini diharapkan
mampu memberikan gambaran dan menjelaskan mengenai Kerusakan pada Gigi
Bercampur, baik seputar faktor penyebabnya, cara penanganan dan hal-hal lain
seputar kerusakan pada gigi bercampur.
Namun, penulis menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itulah penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga makalah ini bisa memberi
manfaat bagi pembaca.
Makassar,
8 November 2011
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………………..……1
Daftar Isi……………………………………………………………………………...……….2
BAB I (PENDAHULUAN)………………………………………………………………......3
BAB II (TINJAUAN
PUSTAKA)……………………………………………………………5
BAB
III(PEMBAHASAN)…………………………………………………………..………15
BAB IV (PENUTUP)…….………………………………………………………………...…24
Daftar Pustaka ………………………………………………………………………...……….26
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Gigi
berlubang atau karies merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kerusakan
gigi masyarakat dunia, baik di Indonesia, maupun di negara-negara lainnya.
Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi, yaitu email, dentin
dan sementum yang disebabkan aktivitas jasad renik yang ada dalam suatu
karbohidrat yang diragikan. Proses karies ditandai dengan terjadinya
demineralisasi pada jaringan keras gigi, diikuti dengan kerusakan bahan
organiknya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan kerusakan
pada jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan periapikal dan
menimbulkan rasa nyeri.
Karies
terjadi pada semua kalangan masyarakat, baik anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Banyaknya faktor penyebab karies menjadi salah satu hal penting yang membuat
penyakit ini dapat berkembang dengan cepat di masyarakat. Khusus pada makalah
ini akan di ulas lebih lengkap mengenai karies pada gigi bercampur. Oral
hygiene, diet, dan berbagai hal lain sangat menentukan perkembangan bakteri S.
Mutans yang mengambil andil dalam terbentuknya karies gigi,di mana bakteri ini
menghasilkan senyawa asam yang mengikis ketebalan email.
Di dalam
makalah ini, akan diuraikan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan karies
gigi.
Namun,
meskipun karies gigi dapat berkembang dengan sangat mudahnya, kesadaran
masyarakat Indonesia dalam mewujudkan gigi karies masih belum terlalu baik. Hal
ini disebabkan pengetahuan masyarakat masih sangat rendah terhadap faktor
penyebab dan akibat dari karies gigi.
Dengan
adanya makalah ini, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai kerusakan
pada gigi bercampur.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Jelaskan
diagnosis pada kasus!
2.
Bagaimana
mekanisme kerusakan gigi pada periode gigi bercampur?
3.
Bagaimana
karakter bahan yang dipilih untuk restorasi gigi bercampur?
4.
Jelaskan
metode kerja preparasi pada kasus?
5.
Bagaimana
prognosis dari perawatan yang dilakukan pada pasien?
6.
Bagaimana
pencegahan kerusakan gigi pada gigi bercampur?
7.
Bagaimana
gambaran radiografi gigi karies?
8.
Apa
dampak jika tidak segera ditangani?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Untuk
mengetahui diagnosis pada kasus.
2.
Untuk
mengetahui mekanisme kerusakan gigi pada periode gigi bercampur.
3.
Untuk
mengetahui bahan yang dipilih untuk restorasi gigi bercampur.
4.
Untuk
mengetahui metode kerja preparasi pada kasus.
5.
Untuk
mengetahui prognosis dari perawatan yang dilakukan pada pasien.
6.
Untuk
mengetahui pencegahan kerusakan gigi pada gigi bercampur.
7.
Untuk
mengetahui gambaran radiografi gigi karies.
8.
Untuk
mengetahui dampak karies jika tidak
segera ditangani.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DIAGNOSIS
Diagnosis adalah pengenalan suatu penyakit. Kadang-kadang
diagnosis cukup dinyatakan dalam pernyataan singkat saja, misalnya amelogenesis
imperfekta. Akan tetapi, dalam kebanyakan kasus, diagnosis harus meliputi juga
perluasan penyakit, lokasi, dan karakteristik lain dari penyakit tersebut.
Misalnya, suatu diagnosis mengenai karies atau penyakit periodontium tidaklah
cukup tanpa menguraikan kapan terjadinya dan seberapa jauh keparahannya.
Dental Radiology
Dental radiology memiliki peranan yang penting dalam menentukan perawatan dan
diagnosa gigi. Penggunaan sinar rontgen telah lama di kenal sebagai suatu alat
dalam bidang kedokteran umum dan kedokteran gigi yang sangat membantu dalam
mendiagnosa penyakit dan untuk menentukan rencana perawatan. Gambaran yang
dihasilkan foto rontgen seorang pasien bagi seorang dokter gigi sangat penting
terutama untuk melihat adanya kelainan-kelainan yang tidak tampak dapat
diketahui secara jelas, sehingga akan sangat membantu seorang dokter gigi dalam
hal menentukan diagnosa serta rencana perawatan.
Karies gigi
adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, dimulai
dari permukaan gigi (pits, fissure dan daerah interproximal)
meluas ke arah pulpa. Karies akan mengakibatkan kerusakan struktur gigi
sehingga terbentuk lubang.
Dasar
diagnostik rontgen adalah perbedaan densitas dari berbagai jaringan tubuh yang
memberikan berbagai derajat kehitaman pada film. Pembacaan foto rontgen secara
konvensial memiliki tingkat subyektivitas yang tinggi karena keterbatasan indra
penglihatan. Pendeteksian secara terkomputasi diharapkan dapat membantu
menegakkan diagnosis karies gigi.
Salah satu
operasi utama dalam pengolahan citra adalah deteksi tepi (edge detection).
Tepi adalah perubahan nilai intensitas derajat keabuan yang mendadak (besar)
dalam jarak yang singkat. Tepi digunakan untuk proses segmentasi dan
indentifikasi objek di dalam citra. Operasi ini bertujuan untuk melacak
titik-titik pada citra yang dianggap sebagai tepi dari suatu objek, yang
membatasi suatu wilayah objek satu dengan yang lainnya. Tujuan lain operasi
pendeteksian tepi adalah untuk meningkatkan penampakan garis batas suatu daerah
atau objek di dalam citra. Idealnya proses deteksi tepi akan menggambarkan
bentuk geometris dari suatu objek dan mengidentifikasi garis-garis yang
mendasari objek-objek tersebut. Output dari operasi ini dimanfaatkan
untuk pemrosesan visual pada level yang lebih tinggi seperti rekonstruksi tiga
dimensi, pengenalan atau kompresi citra.Konsep deteksi tepi tersebut, dapat
digunakan untuk mempermudah mengidentifikasi suatu karies pada gigi.
Mekanisme
dan Penyakit
Penyakit
yang disebabkan adalah karies gigi, beberapa hal yang menyebabkan karies gigi
bertambah parah adalah seperti gula, air liur, dan juga bakteri pembusuknya.
Setelah meakan sesuatu yang mengandung gula, terutama adalah sukrosa, dan
bahkan setelah beberapa menit penyikatan gigi dilakukan, glikoprotein yang
lengket ( kombinasi molekul protein dan karbohidrat) bertahan pada gigi untuk
mulai pembentukan plak pada gigi. Pada waktu yang bersamaan berjuta-juta
bakteri yang dikenal sebagai Streptococcus mutans juga bertahan pada
glycoprotein itu. Walaupun, banyak bakteri lain yang juga melekat, hanya Streptococcus
mutans yang dapat menyebabkan rongga atau lubang pada gigi.
Pada
langkah selanjutnya, bakteri menggunakan fruktosa dalam suatu metabolisme
glikolosis untuk memperoleh energi. Hasil akhir dari glikolisis di bawah
kondisi-kondisi anaerobic adalah asam laktat. Asam laktat ini menciptakan kadar
keasaman yang ekstra untuk menurunkan pH yang sejumlah tertentu menghancurkan
zat kapur fosfat di dalam email gigi mendorong ke arah pembentukan suatu rongga
atau lubang.
Mekanisme terjadinya karies gigi dimulai
dengan adanya plak di permukaan gigi. Sukrosa (gula) dari sisa makanan dan
bakteri berproses menempel pada waktu tertentu berubah menjadi asam laktat yang
akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5).Hal ini menyebabkan
demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi. Penurunan pH yang
berulang-ulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi permukaan
gigi yang rentan dan proses karies pun dimulai dari permukaan gigi (pits,
fissur dan daerah interproksimal) meluas ke arah pulpa.
BAHAN RESTORASI
1. Resin komposit
Komposit merupakan gabungan berbagai bahan yang sifatnya kaku,
biokompatibilitasnya baik, tahan korosi, daya regangnya cukup baik dan warnanya
sesuai dengan warna gigi alami walaupun kurang stabil. Bahannya merupakan
matriks polimer resin dengan partikel pengisi, biasa disebut resin bis-GMA yang
dikembangkan oleh Bowen sejak tahun 1972. Partikel pengisi umumnya barium glass
atau silikon dioksida. Perkembangan dari restorasi komposit sangat maju dalam
beberapa tahun terakhir namun beberapa hal perlu diperhatikan, seperti
penyusutan volume pada saat polimerisasi yang mencapai 7% dan menyebabkan
tekanan 4-7 Mpa yang dapat menyebabkan celah antara gigi dan restorasi sehingga
dapat menyebabkan microleakage, karies
yang rekuren dan gigi sensiitif. Koefisien thermal ekspansinya 2-6 kali
lebih besar dari gigi. Hal ini dapat terlihat pada saat mengkonsumsi makanan
dan minuman yang terlalu dingin atau panas sehingga meneyebabkan timbulnya microleakage
dan hilangnya ikatan adhesif diantara gigi dan restorasi.
Klasifikasi Resin Komposit
Resin komposit dapat diklasifikasikan atas dua bagian yaitu
menurut ukuran filler dan menurut cara aktivasi.
A. Ukuran filler
Berdasarkan besar filler yang digunakan, resin komposit dapat
diklasifikasikan atas resin komposit tradisional, resin komposit mikrofiler,
resin komposit hibrid dan resin komposit partikel hibrid ukuran kecil.
a) Resin Komposit Tradisional
Resin
komposit tradisional juga dikenal sebagai resin konvensional. Komposit ini
terdiri dari partikel filler kaca dengan ukuran rata-rata 10-20μm dan ukuran
partikel.
terbesar adalah 40μm. Terdapat kekurangan pada komposit ini yaitu
permukaan tambalan tidak bagus, dengan warna yang pudar disebabkan partikel
filler menonjol keluar dari permukaan.
b) Resin Komposit Mikrofiler
Resin mikrofiler pertama diperkenalkan pada akhir tahun 1970, yang
mengandung colloidal silica dengan rata-rata ukuran partikel 0.02μm dan
antara ukuran 0.01-0.05μm. Ukuran partikel yang kecil dimaksudkan agar komposit
dapat dipolish hingga menjadi permukaan yang sangat licin. Ukuran partikel
filler yang kecil bermaksud bahan ini dapat menyediakan luas permukaan filler
yang besar dalam kontak dengan resin.
c) Resin Komposit Hibrid
Komposit
hybrid mengandung partikel filler berukuran besar dengan rata-rata 15-20 µm dan
juga terdapat sedikit jumlah colloidal silica, dengan ukuran partikel 0,01-0,05
µm. perlu diketahui bahwa semua komposit pada masa sekarang mengandung sedikit
jumlah colloidal silica, tetapi tidak
memperngaruhi sifat-sifat dari komposit itu.
d) Resin Komposit Partikel Hibrid Ukuran Kecil
Untuk
mendapatkan ukuran partikel yang lebih kecil daripada sebelumna telah dilakukan
perbaikan metode dengan cara grinding kaca.
Ini menyebabkan kepada pengenalan komposit yang mempunyai partikel filler
dengan ukuran kurang dari 1 µm, dan biasanya berukuran 0,1-1,0 µm, yang
biasanya dikombinasikan dengan colloidal
silica. Partikel filler berukuran kecil memungkinkan komposit dipolish
permukaannya sehingga menjadi lebih rata disbanding partikel filler berukuran
besar. Komposit ini dapat mencapai permukaan yang lebih rata karena setiap
permukaan kasar yang dihasilkan dari partikel filler adalah lebih kecil dari
partikel filler lain.
B.
Cara
Aktivasi
Cara aktivasi dari resin komposit dapat dibagi
dua yaitu dengan cara aktivasi secara khemis dan aktivasi mempergunakan cahaya.
Aktivasi secara khemis
Produk yang diaktivasi secara khemis terdiri dari
dua pasta, satu yang mengandung benzoyl peroxide (BP) initiator dan yang
satu lagi mengandung aktivator aromatic amine tertier. Sewaktu aktivasi,
rantai --O--O-- putus dan elektron terbelah diantara kedua molekul oksigen (O)
seperti terlihat Pasta katalis dan base diletakkan di atas mixing pad dan
diaduk dengan menggunakan instrument plastis selama 30 detik. Dengan pengadukan
tersebut, amine akan bereaksi dengan BP untuk membentuk radikal bebas
dan polimerisasi dimulai. Adonan yang telah siap diaduk kemudian dimasukkan ke
dalam kavitas dengan menggunakan instrument plastis atau syringe. 2
Aktivasi mempergunakan cahaya
Sistem aktivasi menggunakan cahaya pertama kali
diformulasikan untuk sinar ultraviolet (UV) membentuk radikal bebas. Pada masa
kini, komposit yang menggunakan curing sinar UV telah digantikan dengan sistem
aktivasi sinar tampak biru yang telah diperbaiki kedalaman curing, masa kerja
terkontrol, dan berbagai kebiakan lainnya. Disebabkan kebaikan nin, komposit
yang menggunakan aktivasi sinar tampak biru lebih banyak digunakan disbanding
dengan pengaktifan secara khemis.
Kebaikan
Resin komposit cukup kuat untuk digunakan pada
tambalan gigi posterior dan resin komposit juga tidak berbahaya seperti amalgam
yang dapat menyebabkan toksisitas merkuri kepada pasien. Selain itu, warnanya
yang sewarna gigi menyebabkan resin komposit digunakan untuk tujuan estetik.
Kerugian
Walaupun warna resin komposit sewarna gigi, tapi
bahan ini dapat berubah warna selama pemakaian. Selain itu dapat juga terjadi
pengerutan. Pengerutan biasanya akan terjadi dan menyebabkan perubahan warna
pada marginal tambalan. Komposit dengan filler berukuran kecil dapat dipergunakan
sehingga 9 tahun, lebih cepat rusak dibandingkan dengan tambalan amalgam.
Kegunaan resin komposit
a. Bahan tambalan pada gigi anterior dan
posterior ( direct atau inlay)
b. Sebagai veneer mahkota logam dan
jembatan (prosthodontic resin)
c. Sebagai pasak.
d. Sebagai semen pada orthodontic brackets,
Maryland bridges, ceramic crown, inlay, onlay.
e. Pit dan fisur sealant.
f. Memperbaiki restorasi porselen yang rusak.
AMALGAM
Amalgam adalah campuran
dari dua atau beberapa logam (alloy) yang salah satunya adalah merkuri. Pada
dasarnya dental amalgam terdiri dari merkuri (Hg), perak (Ag), timah (Sn),
tembaga (Cu), dan bahan – bahan lainnya. Amalgam merupakan pilihan untuk restorasi
gigi posterior.5 Karakteristik amalgam yang lain adalah pemakaiannya dapat
digunakan dalam jangka waktu yang lama, mudah di manipulasikan dan harganya
relatif murah. Amalgam merupakan bahan restorasi yang paling kuat dalam
penggunaannya dibandingkan bahan restorasi lainnya.
Pemanipulasian amalgam meliputi triturasi, kondensasi, carving,
dan polishing. Kondensasi amalgam bertujuan untuk mengadaptasikan
amalgam ke dinding kavitas, mengurangi jumlah merkuri yang berlebih, dan
menghilangkan rongga amalgam (voids) sehingga tercapai kepadatan
maksimal. Kondensasi amalgam dapat dilakukan secara manual atau dengan alat
mekanis. Kondensasi manual dilakukan dengan menggunakan condenser dimana
setiap condenser dipilih sesuai dengan luas dan bentuk kavitas. Tekanan
yang diberikan oleh operator akan mengatur besarnya tekanan pemadatan.6 Selain
itu, luas ujung condenser dan tekanan yang diberikan oleh operator akan
mengatur besarnya tekanan kondensasi. Kondensasi mekanis menggunakan alat
otomatis yang dapat memberikan getaran tertentu pada kavitas.
Amalgam
memiliki sifat seperti fisik, mekanis, khemis, dan biologis yang dapat
dipengaruhi oleh cara pemanipulasiannya termasuk cara kondensasi dental
amalgam. Sifat fisik amalgam seperti creep, selain itu amalgam juga memiliki
sifat mekanis yaitu kekuatan dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh cara – cara
kondensasi. Selain itu kondensasi amalgam juga dapat mempengaruhi terjadinya microleakage,
perubahan dimensi, dan terjadinya porositas pada amalgam.
Amalgam dapat diklasifikasikan
atas beberapa jenis yaitu :
1. Berdasarkan jumlah metal alloy, yaitu:
a. Alloy binary, contohnya : silver-tin
b. Alloy tertinary, contohnya : silver-tin-copper
c. Alloy quartenary, contohnya : silver-tin-copper-indium
2. Berdasarkan ukuran alloy, yaitu:
a. Microcut, dengan ukuran 10 – 30 μm.
b. Macrocut, dengan ukuran lebih besar dari 30
μm.
3. Berdasarkan bentuk partikel alloy, yaitu:
a. Alloy lathe-cut
Alloy ini memiliki bentuk yang tidak teratur,
seperti yang terlihat pada Gambar 1.1
Gambar 1. Partikel alloy amalgam lathe-cut (100x)
10
b. Alloy spherical
Alloy
spherical dibentuk melalui proses atomisasi. Dimana cairan alloy diatomisasi
menjadi tetesan logam yang berbentuk bulat kecil, seperti yang
terlihat pada Gambar 2. Alloy ini tidak berbentuk bulat sempurna
tetapi dapat juga berbentuk persegi, tergantung pada teknik atomisasi dan
pemadatan yang digunakan.
Gambar 2. Partikel alloy amalgam spherical (500x) 10
c. Alloy spheroidal
Alloy spheroidal juga dibentuk melaui proses atomisasi.
4. Berdasarkan kandungan tembaga
Kandungan tembaga pada amalgam berguna untuk meningkatkan kekuatan
(strength), kekerasan (hardness), dan ekspansi saat pengerasan. Pembagian
amalgam berdasarkan kandungan tembaga yaitu:
a. Alloy rendah copper (low copper alloy)
Low copper
alloy ini mengandung silver (68-70%), tin (26-27%), copper (4-5%), zinc (0-1%).
b. Alloy tinggi copper (high copper alloy)
High copper alloy mengandung silver (40-70%), tin (22-30%), copper
(13-30%), zinc (0-1%). Alloy ini dapat diklasifikasikan sebagai:
a) Admixed/dispersi/blended alloys
Alloy ini merupakan campuran spherical alloy dengan lathe-cut
alloy dengan komposisi yang berbeda yaitu high copper spherical alloy dengan
low copper lathe-cut alloy. Komposisi seluruhnya terdiri atas silver (69%), tin
(17%), copper (13%), zinc (1%).
b) Single composisition atau unicomposition alloys
Tiap partikel dari alloy ini memiliki komposisi yang sama.
Komposisi seluruhnya terdiri atas silver (40-60%), tin (22-30%), copper
(13-30%), zinc (0-4%).
5. Berdasarkan kandungan zinc
a. Alloy mengandung seng: mengandung lebih dari 0.01% zinc.
b. Alloy bebas seng: mengandung kurang dari 0.01% zinc.
Glass-ionomer cement (GIC)
Glass-ionomer
cement sudah dikenal sejak tahun 1971, dan bahan ini merupakan pilihan
utama untuk merestorasi gigi-gigi anterior, bahkan untuk gigi-gigi posterior
sekali pun. Setelah resin komposit diperkenalkan, glass-ionomer masih tetap
eksis dan kemampuannya terus berkembang seperti halnya resin komposit.
Pemilihan
bahan GIC sebagai pengikat resin komposit dengan dentin pada restorasi laminasi
didasari atas keunggulan sifat-sifat bahannya. Glass-ionomer merupakan bahan
yang tidak mengiritasi jaringan lunak dan memiliki kandungan Fluor yang dapat
dilepaskan ke lingkungan rongga mulut, serta menyerap Fluor dari lingkungan
disekitarnya sehingga berfungsi sebagai reservoir, sehingga dapat mencegah
terbentuknya karies sekunder. Bahan ini berikatan dengan jaringan termineralisasi
gigi secara fisikokemis, yaitu terjadi pertukaran ion-ion GIC dengan ion-ion
dalam struktur gigi membentuk suatu lapisan ion-ion yang mengikat GIC dengan
jaringan keras gigi. Ikatan glass-ionomer dengan dentin lebih baik dibanding dengan ikatan dentin dengan resin komposit.
Koefisien termal ekspansinya mendekati koefisien termal ekspansi struktur gigi,
mampu menerima tekanan oklusal ringan, dan tahan terhadap daya abrasif. Selain
itu GIC merupakan bahan berbasis air, yang untuk mempertahankan kestabilannya
memerlukan suasana yang sedikit lembab dengan menyerap cairan dari sekitarnya.
Meskipun demikian, kelembaban yang ekstrim dan pengeringan dapat mengganggu
pengerasan bahan
dan
melemahkan bahan glass-ionomer. Glass-ionomer yang sudah mengeras dapat
dietsa untuk memperoleh kekasaran dan porositas permukaannya, sehingga resin
komposit dapat berikatan
dengan
secara mekanis. Hubungan dengan resin komposit diperoleh secara kemis dan
fisik. Etsa dilakukan tidak lebih dari 20 detik untuk mencegah kerusakan lebih lanjut
dari matriks glass-ionomer. Saat ini telah banyak beredar Resin Modified
Glass-Ionomer Cement (RMGIC). Penambahan resin pada GIC bertujuan untuk
mengatasi masalah sensitifitas bahan pada saat pengerasan dan mempercepat waktu
pengerasan. Saat ini RMGIC mulai menggantikan glass-ionomer konvensional dan
dapat digunakan untuk semua indikasi glas-ionomer konvensional ditambah dengan
kegunaan lainnya. Bahan ini dianjurkan untuk digunakan pada restorasi laminasi
karena pengerasannya lebih cepat dan adaptasi interfasial dengan dentin yang
lebih baik dari resin komposit. Ikatan RMGIC dengan resin komposit terbentuk
karena terjadi reaksi kimia diantara kedua bahan ini.
BAB III
PEMBAHASAN
SKENARIO:
Seorang
siswa, berumur 10 tahun diantar oleh ibunya ke RSGM Unhas, dengan keluhan gigi
depan atas berlubang, dan gigi sebelah kiri rahang atas tidak terasa nyaman
karena sering terselip makanan. Pada pemeriksaan, terlihat ada lubang pada
bagian proksimal gigi, tidak terasa sakit, hanya terasa ngilu kalau minum
dingin. Terlihat juga pada oklusal gigi molar kanan bawah titik hitam tapi
tidak terasa sakit.
1.
DIAGNOSA
KASUS
-
Gejala karies
Sejauh ini tanda-tanda karies, yakni
yang dapat dideteksi oleh para klinisi, telah diketahui. Namun, seringkali
pasien merasa memerlukan perawatan karena gejala
karies yang dirasakannya.
Karies menunjukkan gejala pada saat
tahapnya relative sudah lanjut, misalnya terlihat diskolorisasi coklat atau
hitam, terdapatnya kavitas, terasa adanya “lubang dalam gigi” dengan sentuhan
lidah, atau sudah nyeri.
Kariesnya sendiri, sekalipun sudah
sampai dentin, tidak menimbulkan nyeri, namun kavitas yang terbentuk menimbulkan
nyeri yang lumayan derajatnya jika termasuki makanan manis atau terangsang oleh
panas atau dingin. Secara normal, email dan dentin nekrotik melindungi dentin
yang sensitive dan pulpa dari stimuli tersebut. Akan tetapi, suatu penyebab
yang paling umum atas timbulnya nyeri, yang bisa sangat parah, adalah pulpitis
(“sakit gigi”, yang paling sering) yang timbul pada tahap lanjut penjalaran
karies ketika karies sudah sangat dekat pulpa atau bahkan menembusnya.
Pulpa yang terinflamasi secara kronik bisa
tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan gejala ringan saja. Sebaliknya,
pulpitis akut terasa sangat nyeri dan nyerinya sering dipicu oleh stimulus
panas atau dingin. Lebih merepotkan lagi, nyerinya tidak dapat dirasakan dengan
tepat pada gigi yang mana, dan pasien hanya mampu menunjukkan kuadran atau
bahkan sisi mulutnya saja yang terasa nyeri.
Diagnosa pada
kasus tersebut dapat digarisbawahi keluhan “tidak terasa sakit hanya merasa
ngilu ketika terdapat stimulus”. Maka dapat disimpulkan, si pasien mengalami
pulpitis reversible Dimana karies mengenai daerah dentin. Itu terjadi karena
terbukanyAtau biasa juga disebut dengan karies median. Karies ini masih bisa
dilakukan perawatan pulpanya.
Pulpitis adalah proses radang pada
jaringan pulpa gigi,yang pada umumnya merupakan kelanjutan dari proses karies.
Jaringan pulpa terletak di dalam jaringan keras gigi sehingga bila mengalami
proses radang, secara klinik sulit untuk menentukan seberapa jauh proses radang
tersebut terjadi.
Selama ini radang pulpa ditentukan
dengan adanya keluhan rasa sakit yang sifatnya subyektif. Secara
patofisiologik, pulpitis dibagi menjadi pulpitis reversibel dan pulpitis
ireversibel, karena yang penting dalam menentukan diagnosis pulpitis adalah
jaringan pulpa tersebut masih dapat dipertahankan atau sudah tidak dapat
dipertahankan lagi.
2.
GAMBARAN
RADIOLOGI GIGI KARIES
Gambar 1. Karies proksimal
Gambar 3.
Karies proksimal oklusal
1.
Ringan/Dini
Biasanya terjadi di daerah titik
kontak dan gingiva margin. Gambaran radiografik berupa cekungan radiolusen
di permukaan luar gigi
2.
Sedang
Karies telah melibatkan lebih dari
setengah email, tapi tidak mencapai DEJ.Gambaran radiografiknya berupa segitiga
radiolusen di dasar permukaan padagigi dan puncaknya mengarah ke pulpa
3.
Lanjut
Karies telah meluas dan melibatkan
DEJ. Gambaran radiografik dapat berupasegitiga radiolusen
4.
Berat
Secara radiografi telah terlihat
karies yang melibatkan lebih dari setengahketebalan dentin dan mendekati pulpa.
Kamar pulpa dapat terlihat terbuka/tidak.Karies interproksimal yang parah
menyebabkan email yang tidak didukung dentinakan pecah oleh tekanan kunyah,
menyebabkan gambaran radiolsen yang sangat besar.
3.
RESTORASI
YANG DIGUNAKAN
Untuk gigi anterior yang bermasalah , perawatan bisa menggunakan
Glass Ionomer Cement (GIC) atau Resin Komposit, mengingat besarnya peran
estetik dari gigi anterior. Dan untuk gigi posterior biisa menggunakan amalgam
mengingat sifat fisik yang baik dan daya tahan tinggi terhadap tekanan kunyah.
Namun, sekarang ada modifikasi bahan yang menyebabkan amalgam tidak selalu
menjadi pilihan utama untuk gigi posterior karena kandungan merkurinya yang
tidak baik bagi tubuh, terutama bagi anak-anak. Penggunaan resin komposit pun
sudah di indikasikan seiring dengan kemajuan teknologi bahan.
4.
METODE
PREPARASI
Menurut Black, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam
preparasi.
-
Outline form
o
Mempertimbangkan kekuatan cusp gigi
o
Mempertimbangkan kekuatan marginal ridge
o
Meminimalkan perluasan kavitas arah
faciolingual
o
Menghubungkan 2 kerusakan gigi yang berdekatan
o
Kedalaman preparasi dalam dentin max. 0,2 mm
untuk karies pada pit dan fissure:0,2 – 0,8 mm untuk dinding axial pada karies
permukaan halus gigi.
-
Resistance form
o
Bentuk dan penempatan dinding preparasi yang
mendukung restorasi dan gigi untuk bertahan terhadap fraktur dan tekanan kunyah.
o
Berbentuk box
o
Dasar preparasi rata
o
Internal line angle sedikit membulat
o
Mempunyai ketebalan yang cukup untuk bahan
restorasi.
-
Retention form
o
Adalah bantuk dari conventional preparasi yang
menahan restorasi dari terlepas karena tekanan.
o
Tergantung dari material yang digunakan
o
Kelas I dan II amalgam à konvergen ke oklusal
o
Composite à micromechanical bond
o
Dinding parallel axial dan undercut yang
dibuat dalam dentin à cara
tradisional untuk mendapatkan retensi untuk material plastis
o
Untuk material yang berbahan dasar resin à retensi didapat dari ikatan kimia
bonding dengan gigi à enamel
lebih di etching untuk mendapatkan bentuk irregular secara mikroskopis.
-
Convenience form
o
Adalah bentuk preparasi yang menyediakan
kemudahan pandangan saat preparasi atau merestorasi gigi.
o
Klas II amalgam à preparasi diperluas di bawah titik
kontak.
-
Removal of caries
-
Finishing
o
Desain cavosurface angle : 270° à dalam
prakteknya, dibuat lebih kecil dari 270° dengan
konsekuensi material margin angle tambalan menjadi lebih kecil
o
Kehalusan dinding kavitas
o
Tujuan :
§
Memberukan kekuatan mekanis antara gigi dan
bahan tambal
§
Memberikan seal yang baik untuk gigi
§
Sebagai batas tepi restorasi
§
Mendapatkan sudut yang optimal terhadap gigi.
-
Cavity toilet
o
Membersihkan kavitas yang telah di preparasi
sebelum direstorasi
o
Debris , darah dan sisa-sisa hasil preparasi
dibersihkan dengan semprotan air melalui syringe
o
Langkah terakhir adalah mengeringkan kavitas
dengan aliran udara
5.
PROGNOSIS
PERAWATAN
-
Resin
Komposit
Evaluasinya
meliputi perubahan warna, adaptasi tepi, bentuk anatomi, perubahan warna tepi
tumpatan, karies sekunder, tekstur permukaan tumpatan dan sensitivitas setelah
penumpatan. Freilich dkk. meneliti 200 tumpatan Klas I dan Klas II gigi
posterior yang di amati oleh dua pengamat independen yang telah dikaliberasi
yaitu pada saat penumpatan 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, 24 bulan, dan 36 bulan.
Setelah pemakaian selama tiga tahun menunjukkan bahwa 99% dari 105 restorasi
yang lolos criteria dan dievaluasi termasuk golongan baik.
-
Amalgam
Bahan
restorasi ini cenderung bertahan lama karena sifat korosifnya yang
mengunntungkan apabila diaplikasikan dengan baik. Namun, apabila aplikasinya kurang baik, maka
akan menyebabkan terjadinya break down di
margin, tidak membantu menguatkan sisa jaringan gigi, yang berakibat harus
adanya penanganan dari dokter gigi lagi. Sifat amalgam yang brittle , terutama
untuk High Copper Alloys juga
menyebabkan tingginya frekuensi kegagalan. Restorasi amalgam Klas II Molar
hanya 12% tumpatan amalgam bertahan lama melebihi empat tahun tanpa harus
dirawat lebih lanjut. Sisanya 88% sebahagian besar memerlukan penggantian.
Salah satu penyebab kegagalannya ialah jarak tanduk pulpa dan material tumpatan
yang harus cukup, sedangkan di pihak lain mengharuskan kita melakukan preparasi
kavitas yang cukup dalam.
-
Glass
Ionomer
Bila
dibandingkan dengan amalgam, GIC membutuhkan teknik preparasi yang lebih
sederhana, dengan menghilangkan jaringan gigi yang lebih sedikit. Pada penelitian
sebelumnya ditunjukkan angka kegagalan sebanyak 23% setelah 2 tahun dan 60%
setelah 3 tahun.
6.
DAMPAK
APABILA TIDAK DILAKUKAN PERAWATAN
Karies
yang pada awalnya hanya berada pada permukaan gigi, lama-kelamaan menyerang
jaringan dentin dan pulpa. Apabila lapisan dentin sudah terbuka, maka akan
menyebabkan adanya rasa nyeri yang diakibatkan adanya rangsang pada serabut
syaraf di dalam tubulus dentinalis. Karies bisa berlanjut hingga ke jaringan
pulpa. Jaringan pulpa yang sudah terinfeksi lama-kelamaan akan mati. Apabila
sudah mati, rasa sakit pada gigi yang berlubang akan hilang begitu saja dalam
beberapa hari. Gigi berlubang ini akan menjadi pintu gerbang bagi masuknya
bakteri-bakteri yang ada di rongga mulut untuk masuk ke jaringan di bawah gigi.
Bakteri-bakteri tersebut akan menginfeksi jaringan di bawah gigi dan
menimbulkan periodontitis apikalis yaitu peradangan jaringan periodontal di
sekitar ujung akar gigi. Apabila tidak dilakukan perawatan, kondisi ini akan
bertambah parah sampai berbentuk abses (terbentuknya nanah di daerah apeks
gigi atau daerah sekitar ujung akar),
granuloma, sampai kista gigi. Biasanya kondisi tersebut akan disertai rasa
sakit pada gigi apabila gigi tersebut ditekan atau digunakan untuk mengunyah
makanan. Gigi dengan kelainan abses periapikal juga akan terasa bertambah
tinggi dan mengganjal ketika digigitkan. Apabila daya tahan tubuh lemah,
kondisi abses yang berasala dari gigi bisa bertambah parah dan berubah menjadi
cellulitis dan osteomyelitis dari tulang rahang. Selain itu, infeksi bisa
meluas atau menyebar ke bagian leher ataupun dada.
7.
CARA
PENCEGAHAN
Banyak
yang bisa di lakukan untuk mencegah karies.mengetahui penyebabnya merupakan hal
yang penting agar mengerti bagaimna
melakukan pencegahannya,takkalah penting
pula untuk mengganggap karies sebagai suatu proses penghancuran dan perbaikan silih berganti. Jika kekuatan penghancuran melebihi
kekutan saliva maka karies akan
terus berlanjut,sebaliknya jika kekuatan
reparatif mengalahkan kekuatan perusaknya , karies akan berhenti
atau bahkan membaik tergantung
pada stadium apa yang terjadi . oleh karena itu b, penegakan diagnosis di sini
sangatlah penting artitinya karena jika pengerusakan dibiarkan berlanjut terlalu jauh
maka hanya tindakan operatiflah yang dapat menangulanginya , sayangnya
penambalan tidaklah mencegah terjadinya karies lesi baru akan bisa
terbentuk di sekitar restorasi . kalau
menghendaki tumpatan bertahan lama maka hendaknya dentistri preventif harus berjalan bersama
sama bergandeng tangan dengan dentistri operatif.
Dasar dasar pencegahan karies adalah modifikasi satu atau lebih dari tiga faktor
utama penyebab karies yaitu plak,sustrat karbohidrat yang sesuai yaitu:
a. Hilangkan
substrat karbohidrat
Untungnya tidaklah perlu menghilangkan secara total
karbohidrat dari makanan kita ,yang
perlu hanyalah mengurangi frekuensi
konsumsi gula dan membatasainya saat makan saja, hal ini di anggap cara
pencegahan paling efektif.
b. Tingkatkan ketahan gigi
Email
dan dentin yang terbuka dapat di buat
lebih resisten terhadap karies dengan
memaparkannya terhadap flour secara
tepat. Pit dan fisur yang dalam dapat dikurangi
kerentanannya dengan menutupnya
memakai resin , mengingat bahwa dalam proses karie ini terliput kuman yang
spesifik,tidaklah mustahil dalam waktu yang akan datang dapat dilakukan pencegahan dengan imunisasi.
Berbagai penelitian sekarang ini benar benar sedang diarahkan kepada maksud
tersebut.walaupun demikian uji coba klinik pada manusia masih harus di
laksanakan dan kalaupun dianggap sukses maka realisasi,imunisasi dalam skalanya
yang besar masih jauh dari jangkauan.
c. Hilangkan plak bakteri
Secara
teoritis permukaan gigi yang bebas plak tidak akan menjadi karies, tetapi penglihatan total plak
secara teratur bukan lah pekerjaan mudah. Untunggnya tidak semua kuman dalam
plak mampu meragikan gula sehingga tidaklah mustahil untuk mencegah karies dengan jalan mengurangi
kuman yang kariogeniknya saja.
Karies adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
adanya interaksi plak kuman dengan diet dan gigi. Tidak diragukan lagi bahwa
tanpa adanya plak maka tidak akan timbul
karies. Akibatnya salah satu cara pencegahan karies adalah dengan
mengusahakan agar pembentukan plak pada permukaan gigi dapat di batasi baik dengan cara mencegah cara
pembentukannya atau dengan pembersihan
plak dalam jangka waktu tertantu.
Dalam pengendalian plak untuk mencegah timbulnya
karies dikenal dengan dua cara yaitu:
·
Perawatan berdasarkan hipotesa plak non spesifik
Menurut hipotesa ini, semua plak
mempunyai potensi kariogenik yaitu
karies adalah suatu infeksi non spesifik , bila hipotesa ini benar maka perbedaan utama antara individu dengan karies inaktif dan
individu adalah karies rampan adalah pada kuantitas plak yang ada . akibatnya
identitas individu dengan menggunakan
tes kuman tidak diperlukan. Karies setiap indivudu membentuk plak setiap
harinya, maka seluruh masyarakat harus
dirangsang menjaga higiene oral dengan
baik. Cara ini bersama sama dengan pemberian nasihat mengenai diet
dan cara menggunakannnya flour
dudah dilaksanakan selama 3 puluh tahun terakhur ini dengan presentasi
keberhasilan yang tidak banyak.
·
Perawatan
berdasarkan hipotesa plak spesifik
Filosofi perawatan ini mengemukakan
bahwa plajk tidak selalu menyebabkan
karies dan hanya plak tertentu yang
mengandung koloni mikroba spesifik yang
bertanggung jawab terhadap timbulnya
karies pada gigi. Memang telah terbukti
komposisi kuman pada plak
bervariasi dari satu sisi ke sisi lain
baik dalam mulut yang sama maupun dalam mulut individu yang berbeda , telah di temukan
oleh loesche (1) pada tahun 1982 bahwa
secara bakteriologik plak dapat di
golongka dalam 3 kelompok besar yaitu plak yang tidak menyebabkan penyakit , plak yang menyebabkan karies dan plak yang menyebabkan penyakit
periodontium.
BAB IV
PENUTUP
1. Diagnosa
pada kasus tersebut dapat digarisbawahi keluhan “tidak terasa sakit hanya
merasa ngilu ketika terdapat stimulus”. Maka dapat disimpulkan, si pasien
mengalami pulpitis reversible Dimana karies mengenai daerah dentin. Itu terjadi
karena terbukanyAtau biasa juga disebut dengan karies median. Karies ini masih
bisa dilakukan perawatan pulpanya.
2.
Mekanisme karies : Mekanisme terjadinya karies gigi
dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi. Sukrosa (gula) dari sisa makanan
dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu berubah menjadi asam laktat
yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5).Hal ini menyebabkan
demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi. Penurunan pH yang
berulang-ulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan demineralisasi permukaan
gigi yang rentan dan proses karies pun dimulai dari permukaan gigi (pits,
fissur dan daerah interproksimal) meluas ke arah pulpa.
3.
Bahan yang digunakan: resin komposit, amalgam,
atau Glass Ionomer.
4.
Prognosis perawatan :
a.
Resin
Komposit
Evaluasinya
meliputi perubahan warna, adaptasi tepi, bentuk anatomi, perubahan warna tepi
tumpatan, karies sekunder, tekstur permukaan tumpatan dan sensitivitas setelah
penumpatan. Freilich dkk. meneliti 200 tumpatan Klas I dan Klas II gigi
posterior yang di amati oleh dua pengamat independen yang telah dikaliberasi
yaitu pada saat penumpatan 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, 24 bulan, dan 36 bulan.
Setelah pemakaian selama tiga tahun menunjukkan bahwa 99% dari 105 restorasi yang
lolos criteria dan dievaluasi termasuk golongan baik.
b.
Amalgam
Bahan
restorasi ini cenderung bertahan lama karena sifat korosifnya yang
mengunntungkan apabila diaplikasikan dengan baik. Namun, apabila aplikasinya kurang baik, maka
akan menyebabkan terjadinya break down di
margin, tidak membantu menguatkan sisa jaringan gigi, yang berakibat harus
adanya penanganan dari dokter gigi lagi. Sifat amalgam yang brittle , terutama
untuk High Copper Alloys juga
menyebabkan tingginya frekuensi kegagalan. Restorasi amalgam Klas II Molar
hanya 12% tumpatan amalgam bertahan lama melebihi empat tahun tanpa harus
dirawat lebih lanjut. Sisanya 88% sebahagian besar memerlukan penggantian.
Salah satu penyebab kegagalannya ialah jarak tanduk pulpa dan material tumpatan
yang harus cukup, sedangkan di pihak lain mengharuskan kita melakukan preparasi
kavitas yang cukup dalam.
c.
Glass
Ionomer
Bila
dibandingkan dengan amalgam, GIC membutuhkan teknik preparasi yang lebih
sederhana, dengan menghilangkan jaringan gigi yang lebih sedikit. Pada
penelitian sebelumnya ditunjukkan angka kegagalan sebanyak 23% setelah 2 tahun
dan 60% setelah 3 tahun.
5. Cara
pencegahan yang bisa dilakukan ialah:
a. Hilangkan
substrat karbohidrat
b. Tingkatkan
ketahan gigi
c. Hilangkan
plak bakteri
6.
Gambaran Radiografi:
Ringan/Dini
Biasanya terjadi di daerah titik
kontak dan gingiva margin. Gambaran radiografik berupa cekungan radiolusen
di permukaan luar gigi
Sedang
Karies telah melibatkan lebih dari
setengah email, tapi tidak mencapai DEJ.Gambaran radiografiknya berupa segitiga
radiolusen di dasar permukaan padagigi dan puncaknya mengarah ke pulpa
Lanjut
Karies telah meluas dan melibatkan
DEJ. Gambaran radiografik dapat berupasegitiga radiolusen
Berat
Secara radiografi telah terlihat
karies yang melibatkan lebih dari setengahketebalan dentin dan mendekati pulpa.
Kamar pulpa dapat terlihat terbuka/tidak.Karies interproksimal yang parah
menyebabkan email yang tidak didukung dentinakan pecah oleh tekanan kunyah,
menyebabkan gambaran radiolsen yang sangat besar.
7.
Dampak tidak dilakukan perawatan
ialah penyakit yang lebih kompleks, mulai dari abses, granuloma, kista gigi,
cellulitis, osteomyelitis, dll.
DAFTAR PUSTAKA
·
Manual Konservasi Restoratif Menurut Pickard
Edisi ke-6
·
Serba Serbi Kesehatan Gigi dan Mulut, Ardyan
Gilang Ramadhan
·
Dasar-Dasar Karies , Penyakit dan
Penanggulangannya, Edwina A. M. Kidd & Sally Joyston – Bechal


0 komentar:
Posting Komentar