HIV AIDS & Penyebarannya di ntb
Oleh :
Baiq Miftahul Fatia
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Naskah : HIV AIDS dan Penyebarannya di NTB
Penulis : Baiq Miftahul Fatia
Kelas / NIS : XI SBI 1 / 11998
Sekolah : SMAN 1 Praya
Jalan Ki Hajar Dewantara 01 Praya
Telepon (0370) 654045
Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Alamat : Jl. Raya Kumbung Km. 14, Bagu ,Lombok Tengah.
Naskah tersebut :
- Asli, ditulis oleh yang bersangkutan
- Belum pernah dipublikasikan
- Belum pernah diikutsertakan pada lomba penulisan lain.
Selanjutnya, naskah disahkan untuk diikutsertakan pada Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan oleh Yayasan Peduli AIDS.
Praya, 22 November 2008
Pembina KIR,
( Haerudin,S.Pd.)
NIP.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. karena dengan izin–Nyalah penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah yang berjudul HIV AIDS dan penyebarannya di NTB.
Tulisan yang berjudul HIV AIDS dan penyebarannya di NTB ini penulis susun dalam rangka mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diadakan oleh Yayasan Peduli AIDS.
Penulisan karya Tulis ini dapat terlaksana atas bantuan dari berbagai pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yanng setinggi – tingginya kepada:
1. Bapak Drs. M. Amir Muzain, M.Pd selaku Kepala SMA Negeri 1 Praya
2. Bapak Khaerudin M.Pd. selaku pembina KIR di SMA Negeri 1 Praya
3. Bapak Abdullah selaku guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Praya
4. Ibu dan Bapak yang senantiasa memberikan doa, dukungan dan motifasinya kepada penulis
5. Serta berbagai pihak yang telah membantu, yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu
Penulis menyadari dalam tulisan ini terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan hasil penulisan.
Praya, 22 November 2008
Penulis
ABSTRAK
HIV AIDS adalah “hantu” yang akhir-akhir ini semakin menakutkan bagi masyarakat. Karena itulah penulisan ini dilakukan. Karya ilmiah yang berisi pembahasan sederhana HIV AIDS diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat luas akan HIV AIDS. Hal ini akan mengurangi mitos-mitos yang`tidak bisa dipercaya.
Sebutan fenomena gunung es memang sangat cocok disandang penyakit ini. Peningkatan korban yang cepat dan belum ditemukan obatnya yang ampuh merupakan salah satu masalahnya. Pengertian mengenai apa itu HIV AIDS, cara penularannya, masa inkubasinya, dan cara menghadapi penderita HIV AIDS adalah hal yang kini dibutuhkan masyarakat. Terlebih karena penyebarannya yang semakin meningkat.
Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif, dimana penulis lebih banyak menjelaskan data dalam bentuk narasi daripada angka. Penulis mengumpulkan data melalui metode kepustakaan. Hal ini ditujukan untuk mempermudah penulis mendapatkan data.
Penulis mengharapkan dengan suksesnya penulisan karya ilmiah ini akan memberikan banyak manfaat.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL……………………………………………………….......... 1
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………....….....2
KATA PENGANTAR…………………………………………………………..….......…3
ABSTRAK………………………………………………………..........................4
DAFTAR ISI……………………………………………………………..…….....5
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………….. .
A. Latar Belakang……………………………………………….…. .6
B. Rumusan Masalah…………………………………………….….7
C. Tujuan…………………………………………………………….7
D. Manfaat……………………………………………..………….…7
BAB II TELAAH PUSTAKA……………………………………………......8
BAB III METODOLOGI PENELITIAN........….................................…..…..11
BAB IV HASIL PENELITIAN................................................13
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA
BIODATA PENULIS
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fenomena gunung es memang julukan yang paling tepat untuk HIV AIDS. Penyakit ini dijuluki fenomena gunung es karena kasusnya yang sebenarnya termasuk kasus yang memiliki deretan daftar korban yang sangat banyak, namun sangat sulit untuk di ungkapkan keseluruhannya. Hasil darii pendataan korban yang terinfeksi HIV AIDS yang diketahui saja sudah sangat banyak. Diperkirakan jumlah dari korban HIV AIDS yang belum teridentifikasi pun cukup banyak.
HIV AIDS yang hingga saat ini belum ditemukan obat untuk membunuh virusnya pun belum diketahui menambah kuat kesan gunung es pada HIV AIDS. Penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) ini menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Dengan menyerang limfosit, virus ini terus merusak sistem dan melemahkan daya tahan tubuh. Hingga dalam selang waktu beberapa tahun, virus ini kemudian menimbulkan penyakit bernama AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Syndrome ini merupakan kumpulan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri, jamur, hingga virus-virus yang terkadang tidak menimbulkan efek pada manusia normal menjadi sangat berbahaya. Penyebarannya pun relatif mudah. Melalui seks bebas, penggunaan jarum suntik yang sudah terinfeksi HIV, transfusi darah, hingga air susu ibu. Hal ini juga yang menjadi penyebab mudahnya penyebaran penyakit ini di seluruh dunia.
Tidak dapat dipungkiri, penyakit yang mematikan ini akhirnya menunjukkan diri di bumi pertiwi kita, termasuk di Nusa Tenggara Barat. Peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun membuat masyarakat menjadi semakin resah (point real, masalah yang memicu penelitian). Di NTB, bukan hanya kalangan pekerja seks dan pekerja pariwisata yang menderita penyakit ini. Tukang ojek, petani asli, hingga ibu rumah tangga pun menjadi korban. Terlebih lagi, masyarakat yang pengetahuannya tergolong rendah membuat penyebaran dan penanganan penyakit ini menjadi lambat. Pengetahuan yang rendah mengenai penularan HIV AIDS membuat masyarakat cenderung menjauhi korban AIDS.
Namun salah satu permasalahan yang signifikan adalah berkembangnya mitos-mitos mengenai AIDS yang membuat penyakit ini semakin menjauhi titik terang dari sudut pandang masyarakat luas.
B. Perumusan Masalah
a. Apakah HIV AIDS?
b. Bagaimana cara perkembang biakannya?
c. Bagaimana cara menanganinya?
d. Bagaimana perkembangan kasusnya di dunia, khususnya di NTB?
C. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui apakah HIV AIDS secara mendetail.
b. Mengetahui cara perkembang biakannya.
c. Mengetahui cara menanganinya penyakit ini.
d. Mengetahui perkembangan kasusnya di dunia,khususnya di NTB.
D. Manfaat Penelitian
a. Meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya masyarakat NTB (Nusa Tenggara Barat) mengenai pengertian virus, HIV, dan AIDS.
b. Meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya masyarakat NTB mengenai penularan dan gejala-gejala AIDS.
c. Meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya masyarakat NTB mengenai cara-cara penanggulangan terhadap penyakit dan korban penderita HIV AIDS.
d. Mengetahui peningkatan jumlah penderita AIDS di Nusa Tenggara Barat.
BAB II
TELAAH PUSTAKA
A. Virus
a. Sejarah Singkat Penemuan Virus
Sebagaimana yang dituliskan oleh Pratiwi, dkk., (2006:22), virus awalnya ditemukan oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama Antony van Leeuwenhoek (1632-1723). Lalu pada tahun 1882 Adolf Mayer mulai menemukan titik terang pada virus, bahwa virus bisa menular ke organisme lain. Medianya adalah tembakau yang terkena semacam penyakit yang menimbulkan bintik kekuningan pada tembakau. Dmitri Ivanovski melanjutkan penelitian dan menyimpulkan bahwa partikel yang menyerang tembakau tersebut adalah bakteri patogen yang sangat kecil atau zat kimia yang diproduksi oleh bakteri tersebut.
Pada tahun 1897, Martinus Bejerinck menemukan fakta bahwa partikel mikroskopis penyerang tembakau dapat bereproduksi pada tanaman tembakau, tetapi tidak dapat dibiakkan pada medium pertumbuhan bakteri. Pada tahun 1935, Wendell Stanley berhasil mengkristalkan partikel tersebut.
b. Ciri-ciri virus
Menurut Pratiwi (2007:22), virus memiliki ciri tersendiri. Salah satu cirri virus mirip dengan organisme parasit obligat, yaitu hanya dapat berkembang biak dalam sel hidup. Akan tetapi, berbeda dengan organisme parasit virus hanya memerlukan asam nukleat untuk bereproduksi dan tidak melakukan aktivitas metabolisme di dalam tubuhnya. Ciri virus lainnya adalah virus tidak dapat bergerak, tidak membelah diri, tidak dapat di endapkan dengan sentrifugasi biasa, dan dapat dikristalkan.
Berikut ini adalah struktur virus secara umum.
1. Virus bersifat aseluler (tidak mempunyai sel).
2. Virus berukuran jauh lebih kecil daripada bakteri, yakni berkisar antara 20 milimikron-300 milimikro (1 mikron=1000 milimikron). Untuk mengamatinya diperlukan mikroskop elektron yang pembesarannya dapat mencapai 50000x.
3. Virus hanya memiliki satu macam asam nukleat (RNA atau DNA).
4. Virus umumnya berbentuk hablur (kristal).
5. Bentuk virus bervariasi. Ada virus berbentuk oval, silinder, polihedral, dan kompleks. Bentuk virus yang kompleks terdiri dari kepala yang berbentuk polihedral, ekor yang berbentuk silinder, dan serabut ekor. Virus berbentuk kompleks misalnya bakteriofag, yaitu jenis virus yang menginfeksi bakteri.
6. Tubuh virus terutama tersusun atas asam nukleat yang diselubungi oleh protein yang berbentuk kapsid.
B. Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan suatu virus RNA bentuk sferis dengan diameter 1000 angstrom yang termasuk retrovirus dari family Lentivirus (Djauzi, 2006:272). Virus ini diyakini berasal dari infeksi silang-spesies di sekitar wilayah Afrika (Jawetz dkk, 2005:297). Selain itu, virus ini di indikasi pertama kali menimbulkan penyakit di wilayah Haiti dan Amerika. Virus ini menyerang manusia melalui limfosit (sel darah putih) manusia. Sel darah putih yang berfungsi sebagai antibody dirusak sistemnya.
Virus ini sudah mulai di indikasi pada tahun 1926 – 1946.
Pada tahun 1981 Amerika Serikat melaporkan kasus–kasus sarkoma kaposi dan penyakit infeksi yang jarang terdapat dikalangan homoseksual. Hal ini menimbulkan dugaan yang kuat bahwa transmisi penyakit ini terjadi melalui hubungan seksual.
Pada tahun 1982, CD–USA (Centers for Disease Control) Amerika Serikat untuk pertama sekali membuat definisi AIDS. Sejak saat itulah survailans AIDS dimulai.
Pada tahun 1982–1983 mulai diketahui adanya transmisi diluar jalur hubungan seksual, yaitu melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik secara bersama–sama oleh penyalahguna narkotik suntik. Pada tahun ini juga Luc Montagnier dari pasteur Institut, Paris menenmukan penyebab kelainan ini adalah LAV atau Lymphadenophaty Associaterd Virus (http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-zulkifli4.pdf).
Virus ini memiliki materi RNA dan memiliki seludang protein yang di dalamnya terdapat enzim transkriptase dan RNA. Di luarnya terdapat lapisan lemak. Virus ini menginfeksi DNA pada sel limfosit manusia dan di ubah menjadi replika DNA. Hal ini memudahkan virus melekat pada limfosit lain dalam proses memperbanyak sel inang. Meskipun DNA replika tidak bisa aktif, namun dapat di baca sebagai RNA yang bisa menghasilkan protein-protein yang dibutuhkan. Virus ini menyebabkan sel limfosit mengalami lisis, sehingga virus bisa memperbanyak inangnya.
HIV terbagi menjadi dua, yakni HIV-1 dan HIV-2 primata. Pasangan virus ini berevolusi selama bertahun-tahun.
Virus ini menyerang sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong. Fungsi limfosit T penolong adalah untuk mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya yang tergabung dalam pengaturan sistem kekebalan tubuh. Fungsi-fungsi sel ini sebagai penghancur organisme-organisme asing yang masuk ke dalam tubuh. Beberapa sel yang pada mulanya dianggap CD4 negatif ternyata dapat juga terinfeksi HIV namun kemudian diketahui bahwa sel-sel tersebut mempunyai CD4 kadar rendah (Djauzi, 2006:272). Pengaruh HIV pada limfosit CD4 adalah dengan menurunkan jumlah limfosit tersebut sehingga fungsinya juga semakin menurun. Dengan berkurangnya fungsi utamanya sebagai perangsang pengaktifan seluruh sistem imun, dengan begitu maka keseluruhan respon atas imunitas tubuh tidak akan berlangsung normal.
Virus HIV berkembang biak dengan cara lisogenik, yakni cara yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Berdasarkan sumber Pratiwi dkk. (2006:25), fase-fase infeksi lisogenik adalah sebagai berikut.
a. Fase Absorpsi dan Infeksi : Dengan serabut ekornya, fag melekat di bagian tertentu dari dinding sel bakteri. Daerah itu disebut daerah reseptor. Dalam kasus HIV, reseptor yang dimaksud adalah CD4.
b. Fase Penetrasi atau Injeksi : DNA fag masuk ke dalam sel bakteri.
c. Fase Penggabungan : DNA (dalam virus HIV, yang dimaksud adalah RNA) virus bergabung dengan DNA bakteri membentuk profag. Dalam bentuk profag, sebagian besar gen berada dalam fase tidak aktif, tetapi sedikitnya ada satu gen yang selalu aktif. Gen aktif berfungsi untuk mengkode protein reseptor yang berfungsi menjaga agar sebagian gen profag tidak aktif.
d. Fase Replikasi : Saat profag akan bereplikasi, itu artinya DNA atau RNA fag juga ikut bereplikasi. Kemudian ketika bakteri
C. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)
Acquired Immunodeficiency Syndrome adalah penyakit yang ditimbulkan virus HIV. Virus HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Hal ini menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit. Jadi, secara garis besar, AIDS adalah penyakit yang dimulai saat virus HIV benar-benar mengurangi kadar CD4 dan menyebabkan berbagai penyakit mulai menjangkiti tubuh. Namun, kasus kematian karena terinfeksi berbagai penyakit oportunistik dan tumor.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian atau pendekatan cenderung menggunakan metode deskriptif kualitatif karena lebih banyak memunculkan penjelasan berupa narasi dan minim akan data-data berupa angka. Lebih membahas mengenai teori dan konsep.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah perpustakaan, yakni metode dimana penulis mengungkapkan suatu permasalahan dengan cara menganalisis sumber-sumber seperti buku yang ada di perpustakaan. Namun, sumber-sumber tersebut dianggap kurang untuk memenuhi kekurangan informasi baru. Untuk mengatasinya, penulis juga banyak menggunakan media lain, yakni menggunakan internet.
C. Teknik Analisis Data
Penulis menggunakan teknik dengan cara deskriptif, dimana penulis menjabarkan informasi atau fakta sesuai dengan sumbernya. Penulis juga mengolah dan menjabarkan materi dengan lebih rinci agar lebih mudah diterima masyarakat umum. Teknik sederhana yang dimulai dengan pemahaman dari topik yang dikaji dengan harapan penulis lebih menguasai materi yang akan disampaikan.
Tahapan-tahapan teknik analisis :
a. Mengumpulkan bahan atau sumber-sumber sebagai acuan untuk mengadakan penelitian mengenai HIV AIDS.
b. Membaca dan memahami data-data yang ada pada sumber-sumber tersebut.
D. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian sangat perlu dilakukan untuk menghasilkan karya ilmiah yang obyektif dan tidak mengada-ada. Tahapan-tahapan yang digunakan adalah sebagai berikut.
a. Tahap Persiapan
Penulis memulai tahap persiapan dengan menyiapkan judul yang berkaitan dengan tema yang sudah di tetapkan. Setelah itu, penulis menyiapkan sumber-sumber yang akan dijadikan acuan untuk menyajikan karya ilmiah remaja.
b. Tahap Perencanaan
Penulis mempersiapkan out line yang akan dijadikan batasan-batasan penjelasan.
c. Tahap Pelaksanaan
Tahapan ini menyempurnakan rancangan atau out line yang sudah disiapkan. Disini penulis menyusun sumber-sumber sesuai dengan topik pembahasan.
d. Tahap Penjelasan
Tahap penjelasan adalah tahapan akhir atau final. Penulis mulai menyajikan data dalam bentuk tulisan karya ilmiah remaja. Penyempurnaan karya juga dilakukan dalam tahap penjelasan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Humman Immunodefciency Virus
A. Penyebaran Human Immunodeficiency Syndrome dan gejalanya AIDS
Virus menyerang dengan cara menempel pada sel darah putih (limfosit). Setelah itu, virus menginfeksi sel DNA dengan cara memasukkan materi genetik ke dalamnya. Dalam hal ini, virus menyerang sel limfosit yang memiliki reseptor CD4. Di dalam sel, virus berkembang biak. Setelah itu, virus membawa sel dalam tahap lisis. Pada tahapan ini, sel yang terinfeksi akan pecah dan muncul lah virus-virus yang baru. Virus ini berkembang biak secara lisogenik, sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama. Penderita akan benar-benar merasakan efek dari virus ini dalam kurun waktu sekitar delapan tahun.
Berdasarkan data yang penulis peroleh di http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-zulkifli4.pdf diketahui jenis-jenis penyakit dan gejala-gejalanya yang biasa menyerang penderita HIV AIDS.
| Nama Penyakit | Penjelasan |
| Thrush | Pertumbuhan berlebihan jamur Candida di dalam mulut, vagina atau kerongkongan, biasanya merupakan infeksi yang pertama muncul. Infeksi jamur vagina berulang yang sulit diobati seringkali merupakan gejala dini HIV pada wanita. Tapi infeksi seperti ini juga bisa terjadi pada wanita sehat akibat berbagai faktor seperti pil KB, antibiotik dan perubahan hormonal. |
| Pneumonia pneumokistik | Pneumonia karena jamur Pneumocystis carinii merupakan infeksi oportunistik yang sering berulang pada penderita AIDS. Infeksi ini seringkali merupakan infeksi oportunistik serius yang pertama kali muncul dan sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV |
| Toksoplasmosis | Infeksi kronis oleh Toxoplasma sering terjadi sejak masa kanak-kanak, tapi gejala hanya timbul pada sekelompok kecil penderita AIDS. Jika terjadi pengaktivan kembali, maka Toxoplasma bisa menyebabkan infeksi hebat, terutama di otak. |
| Tuberkulosis | Tuberkulosis pada penderita infeksi HIV, lebih sering terjadi dan bersifat lebih mematikan. Mikobakterium jenis lain yaitu Mycobacterium avium, merupakan penyebab dari timbulnya demam, penurunan berat badan dan diare pada penderita tuberkulosa stadium lanjut. Tuberkulosis bisa diobati dan dicegah dengan obat-obat anti tuberkulosa yang biasa digunakan. |
| Infeksi saluran pencernaan | Infeksi saluran pencernaan oleh parasit Cryptosporidium sering ditemukan pada penderita AIDS. Parasit ini mungkin didapat dari makanan atau air yang tercemar. |
| Leukoensefalopati multifokal progresif | Leukoensefalopati multifokal progresif merupakan suatu infeksi virus di otak yang bisa mempengaruhi fungsi neurologis penderita. Gejala awal biasanya berupa hilangnya kekuatan lengan atau tungkai dan hilangnya koordinasi atau keseimbangan. Dalam beberapa hari atau minggu, penderita tidak mampu berjalan dan berdiri dan biasanya beberapa bulan kemudian penderita akan meninggal. |
| Infeksi oleh sitomegalovirus | Infeksi ulangan cenderung terjadi pada stadium lanjut dan seringkali menyerang retina mata, menyebabkan kebutaan. Pengobatan dengan obat anti-virus bisa mengendalikan sitomegalovirus. |
| Sarkoma Kaposi | Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor yang tidak nyeri, berwarna merah sampai ungu, berupa bercak-bercak yang menonjol di kulit. Tumor ini terutama sering ditemukan pada pria homoseksual. |
| Kanker | Bisa juga terjadi kanker kelenjar getah bening (limfoma) yang mula-mula muncul di otak atau organ-organ dalam. Wanita penderita AIDS cenderung terkena kanker serviks. Pria homoseksual juga mudah terkena kanker rektum. |
1. Gejala awal stadium infeksi yaitu :
a. Demam
b. Kelemahan
c. Nyeri sendi I Nyeri tenggorok
d. Pembesaran kelenjaran getah bening
e. Gejala-gejala ini menyerupai influenza/monokleosis.
2. Stadium tanpa gejala
Stadium dimana penderita nampak sehat, namun dapat merupakan sumber penularan infeksi HIV.
3. Gejala stadium ARC
· Demam lebih dari 38°C secara berkala atau terus
· Menurunnya berat badan lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan
· Pembesaran kelenjar getah bening
· Diare mencret yang berkala atau terus menerus dalam waktu yang lama tanpa sebab yang jelas
· Kelemahan tubuh yang menurunkan aktifitas fisik
· Keringat malam
4. Gejala AIDS
Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut Sarkoma Kaposi (kanker pembuluh
darah kapiler) juga adanya kanker kelenjar getah bening.
Terdapat infeksi penyakit penyerta misalnya pneomonia, pneumocystis,TBC, serta penyakit infeksi
lainnya seperti teksoplasmosis.
5. Gejala gangguan susunan saraf
§ Lupa ingatan
§ Kesadaran menurun
§ Perubahan Kepribadian
§ Gejala–gejala peradangan otak atau selaput otak
§ Kelumpuhan
B.Cara Penularan HIV
Kita mengetahui bahwa HIV hidup di dalam darah dan tidak mampu hidup dalam udara bebas. Penularan HIV terjadi kalau ada pencampuran cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti hubungan seks dengan pasangan yang mengidap HIV, jarum suntik dan alat-alat penusuk (tato, tindik dan cukur) yang tercemar HIV, transfusi darah atau produk darah yang mengandung HIV dan ibu hamil yang mengidap HIV kepada janin atau bayinya. Meskipun bisa menular melalui saliva (air liur), penularan itu sangat sulit terjadi karena konsentrasi virus yang relatif rendah dalam saliva.
Hal-hal yang tidak berpotensi menularkannya adalah bersalaman, cium pipi, batuk/bersin, menggunakan telepon umum/kloset umum, tempat duduk, berenang, alat makan/minum, tinggal serumah dengan penderita HIV, dan gigitan nyamuk. Tapi lantaran masih terbatasnya informasi yang didapat masyarakat Indonesia tentang penyakit ini, banyak banyak penderita HIV/AIDS yang dikucilkan dari lingkungannya.
C. Data Penderita HIV AIDS di NTB dan Indonesia
| No. | Nama Provinsi | AIDS | AIDS / IDU | MATI |
| 1 | DKI Jakarta | 3048 | 2214 | 429 |
| 2 | Jawa Barat | 1675 | 1356 | 330 |
| 3 | Papua | 1339 | 4 | 238 |
| 4 | Jawa Timur | 1091 | 570 | 311 |
| 5 | Bali | 735 | 182 | 120 |
| 6 | Kalimantan Barat | 553 | 106 | 106 |
| 7 | Sumatera Utara | 420 | 195 | 77 |
| 8 | Jawa Tengah | 389 | 112 | 167 |
| 9 | Kepulauan Riau | 238 | 23 | 102 |
| 10 | Riau | 166 | 38 | 61 |
| 11 | Maluku | 157 | 66 | 62 |
| 12 | Sumatera Barat | 155 | 114 | 54 |
| 13 | Sulawesi Selatan | 143 | 91 | 62 |
| 14 | Sulawesi Utara | 124 | 27 | 45 |
| 15 | Sumatera Selatan | 124 | 70 | 29 |
| 16 | Lampung | 123 | 97 | 37 |
| 17 | Jambi | 112 | 71 | 31 |
| 18 | Yogyakarta | 103 | 61 | 15 |
| 19 | NTT (Nusa Tenggara Timur) | 92 | 10 | 16 |
| 20 | NTB (Nusa Tenggara Barat) | 82 | 41 | 24 |
| 21 | Bangka-Belitung | 69 | 20 | 4 |
| 22 | Papua Barat | 58 | 5 | 0 |
| 23 | Banten | 51 | 43 | 11 |
| 24 | Bengkulu | 28 | 18 | 9 |
| 25 | NAD (Nangroe Aceh Darussalam) | 16 | 2 | 3 |
| 26 | Kalimantan Selatan | 15 | 7 | 6 |
| 27 | Kalimantan Timur | 12 | 5 | 10 |
| 28 | Sulawesi Tenggara | 8 | 1 | 1 |
| 29 | Maluku Utara | 7 | 2 | 5 |
| 30 | Gorontalo | 3 | 2 | 1 |
| 31 | Kalimantan Tengah | 3 | 1 | 2 |
| 32 | Sulawesi Tengah | 2 | 1 | 1 |
| 33 | Sulawesi Barat | 0 | 0 | 0 |
| | Jumlah/Total | 11141 | 5555 | 2369 |
Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia
Dilapor s/d Desember 2007
Sumber : Ditjen PPM & PL Depkes RI
D. Cara Penanganan Penderita HIV
Penyebaran HIV tidak lah semudah yang kita bayangkan. Untuk itu, tidak ada alasan untuk mengucilkan saudara-saudara kita yang menjadi penderita HIV AIDS. Bukan keinginan mereka untuk terjangkit penyakit mematikan itu. Mereka membutuhkan dukungan kita untuk dapat bertahan hidup lebih lama lagi. Perlu kembali kita ingat bahwa penyebaran HIV tidak bisa melalui udara, berenang, dll. Sehingga kita cukup hanya menjaga jarak dengan korban.
Banyak kejadian yang tidak diinginkan dilakukan oleh mereka karena mereka merasa dikucilkan.
Odha (Orang dengan HIV/AIDS) tidak bisa kita juhi begitu saja. Kita bisa menghadapi mereka dengan cara
• Tidak memberi stigma negatif : Selalu bersifat positif padanya. Hal itu bisa membuat penderita tidak merasa dikucilkan dan meningkatkan semangatnya untuk hidup. Kita harus membantunya menciptkan hidup yang berarti baginya.
Karena dengan member stigma negative, penderita akan merasa down dan itu tidak baik bagi psikologisnya dan keadaan fisiknya.
• Tidak mendiskriminasi : Tindakan diskriminasi akan membuat penderita merasa rendah dan dikucilkan. Hal ini bisa mendoronganya melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.
• Berempati : Tunjukan empati dankepedulian kita. Dengan begitu, penderita akan merasa dirinya sangat berarti di mata yang lain, meskipun sudah terjangkit penyakit mematikan.
• Memberikan motivasi : Motivasi akan meningkatkan semangat hidupnya.
Bantuan kepada Odha (Orang dengan HIV/AIDS ) bisa dilakukan dengan dukungan emosi dan fisik.
a. Dukungan emosi :
a. Saling bertukar perasaan
b. Mendengar perasaan
c. Mendengar keinginannya
d. Memberi semangat
e. Memberikan bantuan keyakinan
b. Dukungan Fisik :
a. enuruti selera makan
b. Memberikan waktu istirahat
c. Memberikan dengan selalu mengingatkan waktu, tanggal dan tempat berada
d. Memberi keyakinan keamanan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
a. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah kumpulan penyakit yang muncul karena rendahnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV.
b. Masa inkubasi virus HIV selama kurang lebih delapan tahun.
c. Penularan HIV terjadi kalau ada pencampuran cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti hubungan seks dengan pasangan yang mengidap HIV, jarum suntik dan alat-alat penusuk (tato, tindik dan cukur) yang tercemar HIV, transfusi darah atau produk darah yang mengandung HIV dan ibu hamil yang mengidap HIV kepada janin atau bayinya. Meskipun bisa menular melalui saliva (air liur), penularan itu sangat sulit terjadi karena konsentrasi virus yang relatif rendah dalam saliva.
d. Hal-hal yang tidak berpotensi menularkannya adalah bersalaman, cium pipi, batuk/bersin, menggunakan telepon umum/kloset umum, tempat duduk, berenang, alat makan/minum, tinggal serumah dengan penderita HIV, dan gigitan nyamuk. Tapi lantaran masih terbatasnya informasi yang didapat masyarakat Indonesia tentang penyakit ini, banyak banyak penderita HIV/AIDS yang dikucilkan dari lingkungannya.
e. Nusa Tenggara Barat menduduki peringkat ke 20 dengan penderita AIDS terbanyak dari seluruh jumlah provinsi di Indonesia.
B. Saran
Kita diharapkan bisa menjadi lebih mawas diri terhadap lingkungan sekitar kita. Dengan begitu, kita bisa terhindar dari virus HIV AIDS. Cara pencegahannya adalah sebagi berikut.
a. Tidak berhubungan seks bebas atau yang tidak terjamin.
b. Setia pada pasangan.
c. Gunakan alat pengaman saat berhubungan.
d. Tidak menggunakan Narkoba.
e. Jaga kebersihan dan kesterilan lingkungan.
Kita juga harus memberikan dukungan kepada para penderita dan jangan mengucilkannya. Hal ini bisa menjadi semangat baru bagi penderita.
DAFTAR PUSTAKA
· Jawetz, dkk. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Salemba Medika.
· Nurhayati, Nunung. 2007. BIOLOGI BILINGUAL Untuk SMA/MA Kelas X Semester 1 dan 2. Bandung : CV. YRAMA WIDYA
· Pratiwi, D.A. dkk. 2006. BIOLOGI SMA Jilid 1 untuk Kelas X. Jakarta: ERLANGGA.
· Djauzi, Samsuridjal dkk. 2007. Ilmu Penyakit Dalam. Cetakan Kedua. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

