“Jangan Sentuh Singgasana Ratu Lebah!”
Judul Novel : Rumah Lebah ; Rahasia di Balik
Wajah-Wajah Asing
Pengarang : Ruwi Meita
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 292 Halaman
Harga : Rp34.000,00
“Tak ada yang pernah tahu kapan biji tanaman jarak pecah karena dia selalu mengelabui. Jadi, saat mimpi buruk bercerita tentang pembunuhan yang terjadi atas dirimu, anggaplah sebagai gladi kotor kematianmu. Karena kematian memang selalu mengelabui dan datang tiba-tiba.
Bersiap-siaplah selalu…”
Mengungkap misteri memang menjadi ciri khas dari Ruwi Meita. Namun nampaknya Ruwi mencoba menggambarkan hal yang berbeda dalam novel terbarunya. Meskipun masih “berbau” misteri, namun Ruwi sudah mulai beranjak dari hal-hal berbau mistik. Kini Ruwi lebih mengedepankan dalam permainan nalar pembaca. Penulis yang sebelumnya terkenal karena novel-novel misterinya kini sudah membuktikan dirinya mampu membuat novel thriller pertamanya.
Menurut penulis Yenny Hardiwidjaja, novel ini menjadi sangat menarik karena alurnya yang tidak mudah ditebak dan kepandaian penulis merangkai kata.
Novel ini bercerita tentang permasalahan yang akhir-akhir menimpa keluarga Winaya. Berawal dari kecerdasan luar biasa Mala, putri tunggal mereka, kebiasaan Mala yang sangat berbeda dengan anak-anak seusianya hingga tokoh-tokoh “khayalan” Mala yang membuat mereka memutuskan untuk memberhentikan aktivitas Mala di sekolahnya.
Novel ini dibuka dengan kejadian menarik dimana Nawai, ibu kandung Mala menjadi resah saat tidak menemukan anak semata wayangnya di kamarnya. Apalagi, kejadian tersebut terjadi di tengah malam, saat semua orang seharusnya tertidur lelap. Nawai yang kebingungan menjadi bertambah resah saat menemukan gambar yang dibuat Mala di siang harinya tertutupi keasliannya dengan tulisan misterius, “KALIAN AKAN CELAKA.”
Ketegangan berkurang saat Nawai menemukan Mala sedang meringkuk kedinginan bersama boneka beruangnya di atap rumah. Disinilah Ruwi mulai memberikan kejelasan dari sikap aneh Mala. Suatu kenyataan yang akan memutar balik imajinasi pembaca. Mala berada di atas karena takut akan sesuatu. Mala takut akan sosok-sosok asing yang ia sebut Satira. Dan ada juga tokoh imajinasinya yang bernama Wilis. Hal ini bisa kita lihat dari alasan yang di ungkapkan Mala pada ayahnya.
“Wilis membawa saya kesini. Wilis menggendong saya ke sini. Dia bilang saya aman di sini. Dia bilang Satira takut tempat tinggi. Dia tak akan berani mengganggu Mala di sini. Satira jahat! Satira jahat!” (hlm. 6)
Di sini pembaca akan dibuat bertanya-tanya mengenai siapa sosok Satira dan Wilis, karena pada awal cerita tidak ada keterangan yang jelas mengenai sosok-sosok asing itu. Yang bisa kita dapatkan adalah kenyataan bahwa Satira dan Wilis mungkin merupakan teman khayalan Mala. Hal itu dapat kita lihat dari percakapan antara Winaya dan Nawai.
“Mala menyebut nama-nama itu lagi. Siapa mereka, Wai?” desah suaminya.
“Aku tak tahu Mas. Jika mereka teman khayalan Mala tak seharusnya mereka mencelakai anak kita.” (hlm. 8)
Ruwi sedikit mengalihkan pandangan pembaca dengan mengalihan perhatian pembaca pada kepindahan Nawai dan keluarganya ke bukit mata kaki. Dengan perlahan menjelaskan tentang keindahan yang ada di sana, Ruwi menyelipkan “kata kunci” dari permasalahan yang selama ini dirasakan keluarga Winaya. Di sini penulis menjelaskan mengenai penyakit semacam anemia yang di rasakan oleh Nawai, yang membuatnya sering tertidur tiba-tiba saat melakukan sesuatu.
Selanjutnya, dengan menarik, melalui sosok Alegra Kahlo, pemeran utama dari film yang dibuat berdasarkan novel best seller karya Winaya, penulis kembali membuat kita sedikit melupakan masalah pokok dari novel ini, yaitu masalah kelainan Mala. Pada awalnya, penulis lebih menjelaskan dengan runut masalah-masalah yan dirasakan oleh Alegra Kahlo. Namun pada akhirnya kita dibawa dalam satu alur yang sama.
Masalah menjadi lebih kompleks ketika muncul sosok kekasih Alegra, yakni Rayhan yang konon tidak tersentuh hukum karena kelicinannya.
Konflik berlanjut saat Nawai menyadari kalau Rayhan selalu memandangnya dengan pandangan yang berbeda. Terlebih lagi munculnya hal-hal mengerikan yang akan menggiring pembaca untuk berpikir bahwa semua tokoh-tokoh khayalan Mala adalah sosok makhluk halus.
Permasalahan mulai menemukan titik temu saat tiba-tiba bukit mata kaki diributkan dengan kejadian tragis, yakni meninggalnya Deni, wartawan majalah terkenal dengan tragis.
Lalu, bagaimana dengan akhirnya? Di sini permasalahan dijelaskan hubungannya dengan begitu jelas oleh penulis.
Alegra Kahlo yang beberapa saat menemui Deni sebelum kematiannya membuatnya terkait dengan kasus kematian Deni. Tapi sebelumnya kita akan menyadari bahwa pembunuh Deni bukan Alegra, karena penulis sudah menjelaskan perihal pemukulan “kecil” yang saat itu dilakukan oleh Alegra, namun pukulannya tak mungkin untuk membuat seseorang meninggal. Meski pun saat itu Alegra merasa kesal karena diperas Deni, tapi bukan dia pelakunya. Di sini, ditemukan adanya indikasi pelaku lain.
Terakhir, saat sisa-sisa foto yang disimpan Deni. Foto Nawai yang sedang bercengkrama dengan Rayhan menarik Nawai terkait dengan masalah itu. Tapi, Nawai merasa sama sekali tidak pernah melakukan pengkhianatan terhadap suaminya. Pernyataan Nawai menjelaskan keberatannya. “Tapi saya tidak melakukan semua hal yang Anda tuduhkan. Apa saya harus mengaku padahal saya tidak terlibat semua ini?” (Hlm. 226)
Permasalah menampakkan titik temu saat tiba-tiba Nawai berubah menjadi sosok yang berbeda. Beberapa saat, ia tiba-tiba menjadi Wilis, Ana Manaya, lalu yang terakhir Abuela. Dan belakangan, diketahui bahwa Nawai mengalami split personality atau gangguan kepribadian ganda. Jadi yang bercengkrama dengan Rayhan Ana Manaya.
Hal itu membuat semua orang berpikir bahwa yang melakukan pembunuhan adalah Nawai. Padahal, dengan memanfaatkan kelemahan Nawai itu, Rayhan membunuh Deni. Tapi satu hal yang tidak disadari Rayhan. Saat itu Mala melihatnya.
Semua yang dikatakan Mala benar, Nawai yang seolah menjadi ratu lebah harus dijaga “singgasana”nya oleh pribadinya yang lain. Karena jika Nawai menyadari bahwa dirinya sakit, ia akan berusaha untuk menghilangkan penyakitnya, yang berarti menghilangkan kepribadiannya yang lain.
Cerita di akhiri oleh Ruwi Meita dengan sedikit menggantung. Rayhan memang tidak tertangkap oleh Polisi, karena ia melenyapkan semua bukti. Namun, Mala yang memiliki kecerdasan luar biasa membalas Rayhan dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang menyebabkan kematiannya.
Novel ini menjadi luar biasa, meskipun menggunakan alur lurus, namun pada akhirnya saat Nawai menjelajahi rumah lebah, akan terkesan kalau ia kembali ke masa yang lalu. Padahal tidak. Alur ceritanya tidak mudah ditebak, karena Ruwi Meita menggiring pembacanya untuk berpikir ke berbagai kemungkinan. Namun mendapat “sentakan” di akhirnya. Sudut pandangnya yang beragam menambah daya tarik novel ini. Sudut pandang penulis, Nawai dan Mala sangat berbeda, menyebabkan adanya diferensiasi yang tajam dalam cerita. Tata bahasa yang digunakan pun menarik, karena selain menyajikan bahasa yang populer di gunakan masyarakat, namun juga menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Akan sedikit memberikan kesan “benturan” bahasa. Perwajahan yang disajikan juga sangat menarik. Walaupun latar warnanya tidak berlebihan, namun cover bagian depannya yang terlihat seperti robek, menjadi ciri khas perwajahan novel ini.
Namun, ada novel ini terkadang tidak begitu mendidik untuk anak remaja. Karena di sini ada sudut pandang Nawai, Winata, Rayhan dan Alegra yang seolah membenarkan hubungan di luar nikah. Selain itu, ceritanya yang berakhir menggantung akan menyisakan sedikit pertanyaan. Misalnya penjelasan mengenai kematian Rayhan. Saat itu seseorang telah meletakkan sesuatu pada rokoknya. Sesuatu yang berbahaya.
Hal ini akan menimbulkan pertanyaan pada pembaca, pertanyaan yang jawabannya pun menggantung.



2 komentar:
ehm.....
knaaapaaa iaass???
Posting Komentar